Beragamnya corak pemikiran
keagamaan yang berkembang dalam sejarah Islam di Indonesia—dari Islam yang
bercorak sufistik, tradisionalis, revivalis dan modernis hingga neo-modernis—dengan
jelas memperteguh kekayaan khazanah keislaman negeri ini. Fenomena ini juga
membuktikan beragamnya pengaruh yang masuk ke dalam wacana Islam yang
berkembang di kepulauan Nusantara ini.[i] Dalam perspektif sejarah perkembangan
intelektual, hal itu, tak pelak lagi, menunjukkan bahwa telah terjadi
pergeseran visi dan orientasi di dalam corak pemahaman keagamaan di kalangan
Muslim Indonesia.
Pola pergeseran tersebut, bisa
dimulai dari penjelasan Martin van Bruinessen, seorang sarjana Belanda yang
ahli dalam kajian Islam di Indonesia,bahwa pada masa-masa awal berkembangnya Islam di Nusantara sejak abad
ke-13 M corak Islam yang berkembang adalah Islam yang bernuansa sufistik.
Bentuk Islam yang seperti itu juga mempengaruhi para pemikir-pemikir Islam
pada masa tersebut hingga setidaknya empat abad kemudian. Lebih tepatnya, ia
memberikan penilaian seperti berikut ini:
“Wajah Islam di Indonesia beraneka ragam, dan
cara kaum Muslim di negeri ini menghayati agama mereka bermacam-macam.
Tetapi, ada satu segi yang sangat mencolok sepanjang sejarah kepulauan ini:
untaian kalung mistik yang begitu kuat mengebat Islamnya! Tulisan-tulisan
paling awal karya Muslim Indonesia bernapaskan semangat tasawuf…”[ii]
Pada saat ditengarai munculnya
ide-ide pembaharuan pemikiran Islam, sebagai akibat dari hubungan kalangan
terpelajar Nusantara dan Timur Tengah pada abad ke-17 dan 18 M, pengaruh
pemikiran sufistik pada berbagai kalangan Muslim masih cukup kuat. Hal ini
ditandai dengan masih berkembangnya berbagai ajaran kelompok tarekat dan sufi
di Nusantara. Yang penting dicatat di sini adalah bahwa, untuk tujuan
penelitian ini, pada masa-masa ini Islam cenderung masih lebih bermakna
sebagai sesuatu yang dipeluk, diyakini,dan dijalankan meskipun jumlah orang yang mendalami Islam cukup
banyak, sebagian di antaranya bahkan di Timur Tengah. Maksudnya, pun jika
Islam dipelajari, hal itu lebih sebagai sebuah upaya untuk “mempertebal”
iman, dan “meningkatkan” kesalehan seseorang yang mempelajarinya, dengan
ruang lingkup studi yang terkadang lebih spesifik dan pendekatan yang
normatif sifatnya.
Sementara itu, menjelang akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20—ketika bangsa Indonesia, termasuk kalangan
Muslim terpelajarnya berkenalan dengan ide-ide Barat secara lebih
intensif—telah secara signifikan mempengaruhi cara pandang masyarakat Islam,
terutama para cendekiawannya, untuk lebih memahami dan mereaktualisasikan
ajaran-ajaran Islam ke dalam realitas sosial mereka. Dalam konteks ini,muncul sejumlah pemikir Muslim Indonesia
seperti Moh. Natsir dan Agus Salim, dan beberapa dekade sebelumnya telah
muncul berbagai gerakan pembaharuan Islam seperti Muhammadiyah dan Persis
yang sudah mulai melibatkan pemikiran keislaman mereka dengan berbagai
tantangan sosial dan budaya bahkan kebangsaan yang mereka hadapi saat itu.
Namun demikian, karena pada saat yang hampir bersamaan juga muncul pengaruh
pemikiran Islam dari luar, khususnya negeri-negeri Arab, corak pemikiran
Islam ini lebih cenderung puritan, sehingga terkadang juga disebut ortodoks.[iii] Tidaklah mengherankan, meskipun sudah berkenalan
dengan gagasan-gagasan modernisme yang sekuler, masih ditemukan ide-ide
puritan mengenai wawasan keagamaan dan kebangsaan yang secara ideologis
mencita-citakan negara "Islam". Kecenderungan seperti ini cukup
dominan mewarnai corak pemikiran keagamaan kalangan yang kemudian sering
disebut sebagai Muslim modernis awal tersebut.
Hingga paruh pertama abad
ke-20, pusat-pusat studi Islam tertinggibagi kalangan masyarakat Muslim Nusantara masih berada di wilayah
Timur Tengah, khususnya Mekah, Saudi Arabia, sebelum akhirnya bergeser ke
Kairo, Mesir.Meskipun demikian, patut
dicatat adanya beberapa upaya yang dilakukan oleh kalangan terpelajar Muslim
pada tahun 1930-an untuk mendirikan berbagai lembaga pendidikan tinggi yang
diharapkan setingkat dengan lembaga akademis.[iv]
Pada tahun 1960, pemerintah
secara resmi mendirikan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) di Jakarta dan
Yogyakarta, yang merupakan perpanjangan dari lembaga pendidikan tinggi agama
yang telah dikembangkan jauh sebelumnya pada tahun 1940-an. Sampai pada
dekade 1960-an, IAIN hanya memiliki ratusan mahasiswa dan umumnya masih
mengandalkan dosen-dosen dari kalangan pesantren, sarjana Indonesia lulusan
Timur Tengah dan lulusan IAIN sendiri.[v]
Pada era 1970-an, wacana
pembaharuan pemikiran keislaman semakin marak. Generasi muda dari kalangan
terpelajar Muslim pada dekade ini sudah lebih menunjukkan kecenderungan
pemikiran yang tidak lagi normatif memandang agama.Mereka—tidak seperti pada masa Islam yang
bercorak mistis dan sufistik—kemudian lebih tertarik dengan pemahaman
keislaman yang berdasarkan kepada pendekatan-pendekatan empiris dan historis
di dalam pembentukan visi keagamaannya. Hal itu, misalnya, dengan tepat
digambarkan oleh Richard C. Martin, Mark R. Woodward dan Dwi S. Atmaja yang
mengatakan bahwa:
“Indonesian Muslim intellectuals are
increasingly concerned with the questions of the proper role of Islam in
national development and how Islamic values can be reconciled with Western
rationalism, rather than with the nature of an Islamic state...What
distinguishes thinkers associated with this movement from earlier modernists
is the combination of empirical and historical approachesthey employ in formulating a vision of an
Islamic society.”[vi]
Tidak dapat disangkal bahwa
perubahan visi dan orientasi itu sejalan dengan masuknya pengaruh pembaharuan
Islam, yang utamanya, dibawa oleh kelompok Muslim modernis "generasi
kedua" ini. Namun demikian, jelas sekali bahwa perkembangan wacana intelektual
Islam seperti yang dimaksud oleh Martin, Woodward dan Atmaja di atas sudah
memasuki babak baru, karena sudah menyangkut metodogi yang lebih empirik dan
historis yang dipergunakan di dalam memformulasikan masalah keislaman dan
masalah kemasyarakatan. Dalam sebuah penelitiannya, Karel Steenbrink, sarjana
Belanda yang pernah menjadi dosen tamu di IAIN Yogyakarta, mengatakan bahwa
khususnya sejak dibukanya program pascasarjana di lingkungan IAIN pada tahun
1982, pengaruh pendekatan historis dan empiris seperti ini sudah sedemikian
nyata.[vii]Dalam konteks seperti ini, IAIN dapat
dilihat sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi Islam yang memberikan
"wadah" dan kesempatan bagi kalangan Muslim terpelajar untuk
mengembangkan tradisi studi Islam yang empiris dan tidak lagi normatif.
Dengan demikian, kita bisa
melihat adanya pergeseran orientasi dan visi yang signifikan di dalam
mendekati, memahami dan mengkaji Islam di kalangan terpelajar Muslim
Indonesia ini. Perkembangan ini menunjukkan semakin menguatnya kecenderungan
untuk melihat Islam dan masayarakat Muslim sebagai sebuah obyek studi,
penelitian dan pengkajian--tidak melulu sebagai sesuatu yang harus “dipeluk”
dan “diimani” saja--sehingga hasil-hasil studi yang dilakukan bukan saja
tidak melulu diharapkan bersifat apologetik dan merupakan “pembenaran”
terhadap agama yang dianutnya, melainkan juga bersikap kritis. Sikap ini
penting untuk dilihat secara lebih seksama, mengingat aspek-aspek seperti
inilah yang bisa mendorong tumbuhnya tradisi ilmiah di kalangan terpelajar
Muslim, khususnya seperti mereka yang menyerap dan mewarisi tradisi seperti
itu di lembaga pendidikan Islam seperti IAIN. Seperti yang akan kita bahas
lebih lanjut, inilah aspek-aspek terpenting dari awal mula peranan IAIN di
dalam wacana intelektual berupa perluasan horison pemikiran Islam di
Indonesia.
Pergeseran
Visi dan Orientasi
Selama hampir lebih dari tiga
puluh tahun, IAIN telah memainkan peranan yang signifikan di dalam
pengembangan dan pembaharuan sistem pendidikan Islam di Indonesia, khususnya
pada pendidikan madrasah dan pesantren.Peranan penting ini dapat dilihat bukan hanya terbatas dalam konteks
menyediakan guru-guru bagi kalangan pelajar Muslim tetapi--dan ini yang lebih
penting--IAIN telah mempengaruhi cara pandang, pemahaman dan penafsiran Islam
yang lebih luas dan terbuka.Sebagai lembaga pendidikan Islam tertinggi di
Indonesia, IAIN telah menjadi salah satu harapan terbaik bagi komunitas
Muslim yang ingin mengkaji Islam setelahmereka menamatkan bangku Madrasah Aliyah atau pesantren. Bahkan,
menurut Ihsan Ali-Fauzi, seorang intelektual muda dan aktifis Muslim, bagi
banyak kalangan Muslim, utamanya orang Islam desa, lembaga seperti IAIN
adalah sebuah lembaga pendidikan yang merupakan satu-satunya pilihan,
atau—meminjam ungakapannya sendiri—“the best offer you can get”.[viii] Lewat IAIN-lah, banyak kalangan muda Muslim
terpelajar yang potensial menaruh harapan untuk bisa melakukan
"mobilitas vertikal"[ix] sehingga bisa mensejajarkan diri dengan kalangan
terpelajar Indonesia lainnya.
Tentu saja, sejak kelahirannya
IAIN tidak langsung menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berciri akademis,
dengan wawasan sosial politik yang luas. Sebelumnya, ruang gerak dan
partisipasi intelektual IAIN masih terbatas dan bahkan cenderung
terpinggirkan, apalagi jika dibandingkan dengan peranan dan pengaruh kalangan
terpelajar dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri lainnya. Seperti yang diakui
oleh Nurcholish Madjid,
“Ketika saya masih kuliah di Ciputat (Syarif
Hidayatullah, Jakarta—pen),IAIN
tampak sebagai pihak yang memelas, terpinggirkan dan marginal sekali, jika
dilihat dari segi wacana partisipasi intelektual. Umurnya kan masih baru
sekali. Jika dibandingkan dengan berbagai Perguruan Tinggi Negeri lainnya—yang
biasanya merupakan perpanjangan dari sekolah-sekolah tinggi sejak zaman
Belanda—mereka sudah memiliki tradisi intelektual. Bahkan, mereka sudah
berkenalan dengan berbagai gerakan kebangsaan, seperti Budi Utomo itu.”[x]
Meskipun banyak dari orang-orang Islam dari
pedesaan itu tidak membawa bekal dan tradisi intelektual yang memadai, namun
sebagian di antara mereka memiliki potensi-potensi tertentu untuk berkembang.
Hal ini umumnya benar, khususnya pada sebagian mahasiswa IAIN yang sebelumnya
telah mengenyam pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren.
Dari sini, seperti yang kemudian dijelaskan Ihsan Ali-Fauzi, perjumpaan
mereka dengan kolega-kolega lainnya di IAIN telah menumbuhkan kesadaran baru:
menjadi creative minority, sebuah kelompok minoritas yang kreatif.[xi] Penjelasan Ihsan Ali-Fauzi tersebut sebenarnya
tidak bisa dijadikan sebagai sebuah perspektif umum untuk melakukan
generalisasi terhadap perkembangan yang ada di semua kalangan IAIN. Oleh
karenanya, perspektif seperti ini lebih tepat untuk diterapkan dalam melihat
perkembangan intelektual sebagian, bahkan mungkin sebagian kecil, dari
komunitas IAIN yang mengalami perkembangan intelektual sedemikian rupa,
sehingga akhirnyamenjadi creative
minority tersebut. Tentu saja, termasuk dalam kategori ini adalah
mereka-mereka yang di kemudian hari bisa melakukan “mobilitas vertikal”
seperti yang dijelaskan di muka. Salah satu bentuk dari kesadaran seperti
itu, misalnya, terwujud dalam sikap yang tidak lagi melulu menonjolkan aspek dakwah
dari IAIN, melainkan aspek akademis dan tradisi intelektualnya. Munculnya
IAIN sebagai tempat penyemaian ide-ide keislaman di Indonesia pada akhirnya
telah mempengaruhi wacana intelektual, paling tidak dalam konteks wacana
pemikiran keagamaan di Tanah Air.
Bagi
kalangan IAIN sendiri, fenomena ini diharapkan bisa terus dikembangkan.
Dengan pendekatan seperti ini, maka akan muncul dampak yang besar bukan hanya
bagi kehidupan akademis semata, melainkan juga bagi agama dan negara: corak
dan wajah Islam yang lebih intelektual dan tidak lagi ideologis. Namun
demikian, harus diakui juga bahwa visi Islam seperti ini belum lagi menjadi
sebuah kecenderungan umum di kalangan Muslim Indonesia. Beberapa gejala
perkembangan masalah keagamaan dan politik belakangan ini di Indonesia masih
mengindikasikan cukup kuatnya kelompok-kelompok Islam yang “ideologis”
tersebut. Dengan lebih mengedepankan aspek intelektual dalam Islam, sebagian
besar kalangan IAIN dapat dicatat sebagai sebuah komunitas Muslim terpelajar,
yang mungkin merupakan sebagian kecil dari umat Islam Indonesia, yang terus
memperjuangkan peningkatan mutu pendidikan tinggi Islam dengan visi Islam
intelektual seperti itu.[xii] Pandangan berikut ini barangkali bisa disebut
sebagai pandangan yang khas IAIN tentang Islam.Sebagai fenomena intelektual, seperti yang
dijelaskan oleh Abd A’la, seorang dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya,
“Islam tidak lagi dijadikan sebagai pemersatu
emosional atau alat pengerah massa sebagaimana ketika ia menjadi sebuah
ideologi, namun lebih diarahkan kepada pengembangan wacana dan dialog untuk
menemukan kebenaran yang sebenarnya dalam rangka menyebarkan rahmat bagi
sekalian alam.”[xiii]
IAIN dipandang berperan dalam dinamika
perkembangan wacana intelektual Islam di Indonesia karena pendekatannya
terhadap Islam yang khas seperti ini. IAIN selama ini lebih menekankan
pemaknaan dan pemahaman yang luas terhadap Islam (broad definition and
understanding of Islam).[xiv] Corak pemikiran yang seperti ini sangat jelas
dirasakan pada, misalnya, IAIN Jakarta (Ciputat).Lembaga pendidikan ini sering disebut
sebagai “kampus pembaharu”,[xv] yang berbasiskan kepada upaya “pembaharuan
pemikiran Islam”. Watak liberal komunitas intelektual Ciputat ini sudah
sedemikian mengakar, sehingga tidaklah mengherankan jika hal ini memunculkan
pemahaman keagamaan dan sosial yang disebut orang dengan istilah “mazhab
Ciputat”.[xvi]
Akar-akar
Tradisi Intelektual IAIN
Dalam
waktu kira-kira satu dasawarsa sejak kelahiran IAIN di dalam dunia pendidikan
tinggi di Indonesia, masyarakat luas mulai mengenal berbagai ide dan gagasan
keislaman dan keagamaan yang “segar” dari kalangan terpelajar (dosen, alumni
dan mahasiswa) IAIN. Salah satu pelopornya adalah Nurcholish Madjid, yang
sejak masih mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sudah menjadi tokoh
dan aktivis. Ia adalah satu-satunya orang yang menjabat sebagai Ketua Umum
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)—salah satu organisasi ekstra mahasiswa yang
paling besar dan berpengaruh di Indonesia—selama dua periode (1966-1969 dan
1969-1971). Sejak 1970-an, berbagai gagasan dan pemikiran kritisnya
dikemukakan dalam artikel-artikel yang diterbitkan dalam berbagai harian
ibukota kala itu seperti Tribun, Pos Bangsa dan Mimbar.
Nurcholish dikenal sebagai seorang cendekiawan yang kritis dan telah
mensosialisasikan ide-ide pembaharuannya sejak menjadi tokoh mahasiswa dan
aktivis HMI. Tulisan-tulisannya pada awal 1970-an sudah menyulut kontroversi
di kalangan masyarakat Indonesia—sering disebut “heboh intelektual”—dan
dikenal sangat kritis terhadap berbagai permasalahan sosial keagamaan bangsa
Indonesia.[xvii] Setelah menyelesaikan program doktor di
University of Chicago pada tahun 1984, otoritas Nurcholish sebagai salah
seorang intelektual Islam Indonesia paling terkemuka semakin tidak diragukan
lagi.[xviii]
Sebelumnya, masyarakat Islam,
khususnya kalangan terpelajarnya, sudah banyak berkenalan dengan
pemikiran-pemikiran pembaharuan dari Harun Nasution,[xix] mantan rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta,
dan Mukti Ali,[xx] seorang guru besar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,
yang kemudian menjadi Menteri Agama. Harun Nasution adalah salah seorang
tokoh pembaharuan Islam yang paling berpengaruh di lingkungan Islam
terpelajar Indonesia. Ia pernah belajar di Universitas al-Azhar, Kairo, dan
American University, Kairo, dimana ia menamatkan program BA-nya di jurusan
ilmu-ilmu sosial. Ia meneruskan studinya di Dirasat al-Islamiyah,
sebuah lembaga pendidikan swasta di bawah pimpinan Prof. Abu Zahrah, salah
satu ahli Islam terkemuka saat itu, di Mesir. Selanjutnya, ia mengembara ke
Barat, dan memperoleh gelar MA dan Doktor di bidang studi-studi keislaman di
Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada pada 1968.
Semasa hidupnya ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta selama dua periode (1973-1983), dan, setelah itu, ia menjadi Dekan
Fakultas Pascasarjana IAINSyarif
Hidayatullah Jakarta hingga wafatnya pada 18 September 1998.[xxi]
Oleh
banyak kalangan Muslim terdidik, sosok Harun Nasution lebih dikenal sebagai
seorang intelektual Muslim yang liberal.[xxii] Ia banyak menawarkan cara pandang yang rasional,
terbuka dan ilmiah terhadap kajian-kajian keislaman, seperti yang ia tuangkan
dalam beberapa karyanya yang banyak dikonsumsi kalangan IAIN.[xxiii] Dalam kerangka liberal seperti itulah, Harun Nasution
mengembangkan tradisi studi-studi Islam, khususnya di IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, yang lebih menekankan nilai-nilai akademis dan
pendekatan rasional.
Sementara itu, Mukti Ali sudah
dikenal sebagai seorang intelektual Muslim yang kritis dan berpengaruh di
kalangan Muslim terpelajar Yogyakarta, jauh sebelum ia menjabat sebagai
Menteri Agama.[xxiv] Mukti Ali dikenal sebagai sedikit di antara
intelektual Muslim yang mengembangkan studi agama-agama, dan dikenal sebagai
ahli perbandingan agama yang paling awal. Ia mendapatkan pendidikan keislaman
awal di pesantren, kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Karachi,
Pakistan hingga meraih gelar doktor di bidang Sejarah Islam pada 1955.
Setelah itu, ia juga belajar kajian keislaman dan perbandingan agama di
Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada dan meraih
gelar MA pada tahun 1957.[xxv] Sepulangnya ke Indonesia, ia mengabdikan diri
dengan mengajar pada Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
sebelum akhirnya ia ditunjuk sebagai Menteri Agama pada 1971.
Mukti
Ali, sejak kedatangannya di Yogyakarta pada 1963 sepulang dari studi di luar
negeri, banyak berkenalan dengan para aktivis mahasiswa, khususnya mereka
yang terlibat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan mendirikan kelompok
diskusi yang diberi nama limited group.[xxvi] Nurcholish Madjid menilai Mukti Ali sebagai
seorang representasi terbaik dari kalangan Muslim terpelajar Indonesia yang
belajar di Barat.[xxvii] Kelak di kemudian hari, beberapa aktivis
kelompok diskusi ini, seperti Djohan Effendi,[xxviii] Ahmad Wahib[xxix] dan M. Dawam Rahardjo,[xxx] tampil menjadi cendekiawan-cendekiawan Muslim
yang berpengaruh dalam mengembangkan tradisi gerakan Islam modernisdi Indonesia.
Booming Sarjana Muslim
Meskipun
pengaruh Harun Nasution, Mukti Ali dan Nurcholish Madjid tidak dapat
diragukan lagi, terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk
menjelaskan akar-akar tradisi intelektual di kalangan Muslim terpelajar,
khususnya IAIN. Ihsan Ali Fauzi menyebutnya sebagai sebuah unintended
consequences—sebuah istilah yang juga sering dikemukakan oleh Nurcholish
Madjid—guna menjelaskan sebuahproses yang panjang dari pergulatan
identitas dan intelektual kalangan Muslim terpelajar.[xxxi] Dan, hal ini, menurut Nurcholish, sangat erat
kaitannya dengan konsep pendidikan yang dipahami dan dikembangkan di IAIN:
“Pendidikan itu kan yang penting dilihat
bukan intended consequences-nya—seperti orang belajar ke ITB menjadi
insinyur—melainkan, yang lebih penting adalahunintended consequences-nya: menjadi terpelajar. Kalau menjadi
terpelajar, orang itu bisa menjadi apa saja. Gejala IAIN menjadi apa itu sama
saja dengan fenomena orang-orang IPB (Institut Pertanian Bogor—pen) yang
banyak menjadi bankir. Itulah yang namanya disebut unintended consequences.
Hal ini bisa menjadi semakin besar, bila aspek tradisi intelektualnya
tersentuh. Pada mula-mulanya kan orang-orang pergi ke IAIN ingin
menjadi modin. Tapi, lama-kelamaan, karena aspek intelektualnya
tersentuh lalu mereka bisa menjadi apa saja. Itu pentingnya menjadi
terpelajar”.[xxxii]
Pernyataan Nurcholish Madjid mengenai unintended
consequences tersebut di atas harus dicermati dan dilihat dalam konteks
tertentu. Perspektif seperti ini hanya dapat diterima jika, misalnya,
dipergunakan untuk melihat munculnya kecenderungan yang “melebar” pada
sebagian lulusan IAIN. Maksudnya, dari ruang lingkup IAIN yang terbatas hanya
mendalami agama Islam, seringkali muncul “beraneka-ragam” para sarjana dan
alumni IAIN yang berkiprah di berbagai tempat, misalnya dunia pers, Lembaga
Swadaya Masyarakat, dan kegiatan-kegiatan lainnya, yang jika dilihat sepintas
nampaknya cukup kontras dengan peranan dan harapan sosial masyarakat tentang
IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi agama. Walau bagaimanapun, sistem
pendidikan IAIN telah dibangun dan didesain sedemikian rupa dan tentu saja
dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensinya.
Khususnya bagi kalangan IAIN,
pengaruh pemikiran Nurcholish begitu besar. Hal itu, tidak semata-mata
dirasakan oleh mahasiswa dan komunitas terpelajar di IAIN Jakarta atau
Yogyakarta, namun sudah menjalar lebih jauh hingga ke IAIN-IAIN daerah
lainnya, sebagaimana dinyatakan Abdul Halim, seorang mahasiswa dari
Banjarmasin, Kalimantan Selatan:
“…tulisan-tulisan Cak Nur (Nurcholish Madjid—pen)
itu bisa mengimplementasikan nilai-nilai Islam dan tulisannya itu kepada
hal-hal yang universal kemasyarakatan. Artinya, dia telah mengedepankan
konsep Islam yang universal. Islam itu bisa diterima oleh segala golongan
dalam kehidupan apapun, karena memang ajaran Islam itu universal.”[xxxiii]
Yang menarik, paling tidak dua dari ketiga orang
tersebut (Harun Nasution dan Mukti Ali)—yang dianggap merintis dan menjadi
akar-akar tradisi intelektual di kalangan IAIN—pernah bersentuhan dengan
tradisi ilmiah dan akademis Institute of Islamic Studies (IIS), McGill
University, Montreal, Kanada. Harun Nasution dan Mukti Ali mendapatkan
pengalaman akademis sebagai mahasiswa dan meraih gelar akademis dari lembaga
ini.[xxxiv] Sementara itu, Nurcholish Madjid, yang memang sudah
terkenal dan dikenal sebagai salah seorang intelektual Muslim Indonesia
paling berpengaruh, pernah mendapatkan pengalaman mengajar dan melakukan
riset di McGill University sebagai Guru Besar Tamu pada tahun 1991-1992.[xxxv] Hal ini tentu saja bukan merupakan peristiwa
kebetulan belaka, melainkan sebagai sebuah indikasi kuat betapa sistem
pendidikan dan metodologi dalam kajian-kajian keagamaan dan keislaman yang
umumnya terdapat pada berbabagi universitas di Barat, seperti di Institute of
Islamic Studies, McGill University secara signifikan telah, baik secara
langsung maupun tidak, berpengaruh di dalam penyemaian benih-benih tradisi
intelektual dan akademis di kalangan Muslim terpelajar di Indonesia.
Setidaknya dalam kasus Harun Nasution, yang disebut Karel Steenbrink,
"meniru program McGill tahun 1970-an"[xxxvi] dan diterapkannya pada fakultas pascasarjana
IAIN Jakarta, pengaruh seperti itu memang cukup signifikan. Bahkan, jika
dirunut-runut, warisan intelektual yang kemudian tumbuh dan berkembang di
IAIN tersebut harus mengakui berhutang budi bukan hanya pada institusi yang
kemudian ditiru sistem dan metode pengajarannya, tapi juga pada beberapa
orang guru besar ahli studi-studi Islam, seperti almarhum Profesor Fazlur
Rahman[xxxvii] dari University of Chicago, yang telah begitu
besar pengaruhnya secara akademis bagi kalangan IAIN.
Wacana
Keagamaan yang Dikembangkan IAIN
Dinamika intelektual kalangan
IAIN ternyata tidak berhenti pada figur-figur Harun Nasution, Mukti Ali dan
Nurcholish Madjid, melainkan terus berkembang pada beberapa generasi
sesudahnya. Sejumlah pemikir muda telah muncul untuk meneruskan tradisi
intelektual yang diwariskan oleh para pendahulunya tersebut. Yang lebih
menarik lagi, wacana intelektual yang dikembangkan pun semakin beragam
sejalan dengan diskursus intelektual yang berkembang. Fachry Ali dan Bahtiar
Effendy (keduanya adalah alumnus IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta) telah
dengan sangat baik merekonstruksikan wacana intelektual di bidang pemikiran
keislaman pada masa orde baru.[xxxviii] Mereka mencatat, setidaknya telah muncul
berbagai respon—dikategorikan sebagai pola pemikiran yang modernis,
neo-modernis, universalis, sosial-demokratis, dan transformatif—yang
dilakukan kalangan terpelajar Muslim di dalam menghadapi berbagai macam
perubahan sosial, politik, budaya dan keagamaan di Indonesia.
Wacana keagamaan yang
dikembangkan, setidaknya dari tema-tema tulisan dan karya orang-orang IAIN
belakangan, telah menunjukan kegairahan intelektual mereka. Kini, mereka
tidak canggung lagi untuk berbicara—selain, tentu saja wacana keislaman
sebagai fokus utama—tentang masalah-masalah hak-hak asasi manusia, keadilan
sosial, kesetaraan gender, civil society, dan demokratisasi (lihat
pada tabel 1, 2 dan 3 tentang temuan-temuan yang menarik dari berbagai
tulisan kalangan IAIN pada bahasan selanjutnya). Untuk menyebut beberapa
nama, para penulis yang dibesarkan dalam tradisi intelektual IAIN yang telah
dikenal publik sebagai penulis prolifik adalah Komaruddin Hidayat,[xxxix] Fachry Ali,[xl] Bahtiar Effendy,[xli] Saiful Mujani,[xlii] Masdar F. Mas’udi[xliii] dan Abdul Munir Mulkhan.[xliv]Belakangan, pada generasi berikutnya, para penulis muda berbakat
lainnya bermunculan di IAIN dan menulis secara luas di berbagai surat kabar
nasional. Di antara mereka tercatat di antaranya adalah Muhammad Wahyuni
Nafis, A. Najib Burhani, Sukidi, Al-Zastrouw, dan Syafiq Hasyim.[xlv] Hal ini tidaklah begitu mengherankan, karena
setidaknya sejak akhir 1980-an, terjadi perkembangan yang sangat pesat dari
para sarjana IAIN yang kemudian bergelut di dunia pers/media massa.
Bahkan, perkembangan wacana
pemikiran keislaman dan keagamaan yang luas itu juga sudah merambah di
tingkat pascasarjana pada beberapa IAIN.Hal ini, misalnya, bisa terlihat dari berbagai karya tesis dan
disertasi yang dilakukan para peserta program pascasarjana di tingkat IAIN.
Untuk menyebut beberapa nama sebagai contoh, karya-karya yang dihasilkan
sarjana seperti Suadi Sa’ad,[xlvi] Muhammad Nurhakim,[xlvii] H. Aqib Suminto,[xlviii] Kautsar Azhari Noer[xlix] dan M. Ali Haidar[l] telah menguatkan berbagai asumsi perkembangan
wacana intelektual di kalangan IAIN. Sebagaimana yang bisa dilihat pada
karya-karya yang ditulis mereka, kalangan IAIN tidak lagi melulu fokus di
sekitar studi tentang ajaran-ajaran Islam normatif, tetapi sudah mulai
melebar kepada kajian-kajian keagamaan yang sifatnya empirik, dengan
menggunakan metode ilmu-ilmu sosial dan pendekatan-pendekatan teoretis
moderen lainnya. Penilaian seperti ini datang dari Karel Steenbrink yang
sempat mengadakan penelitian tentang kajian-kajian sejarah oleh para dosen
IAIN dan menemukan bahwa "cukup banyak disertasi dari fakultas
pascasarjana…yang diarahkan pada tema sejarah."[li]
Sementara itu, pada level
intelektual muda IAIN, berbagai isu kontemporer seperti masalah agama dan
pluralisme, kesetaraan gender dan civil society menjadi diskursus yang
dominan. Untuk menunjukan sebuah contoh, berikut dikutip sebuah pandangan
yang khas dari generasi muda intelektual IAIN. Misalnya, dalam konteks menuju
hubungan yang lebih saling menghargai dan saling memahami (mutual
understanding), Syafiq Hasyim mengutarakan pendapatnya,
“…masyarakat Islam harus rela menanggalkan sifat
dan karakter superioritas agamanya, namun jangan inferior juga vis a vis yang
lain (the other). Dan Barat pada satu sisi juga harus fair dan
demokratis dalam membagi kesempatan maju negara-negara pra-industri dalam
mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi…di samping itu desakralisasi politik
adalah sisi penting lainnya. Dengan desakralisasi kita bisa melindungi eksploitasi
agama dari tujuan-tujuan politik…agama sepantasnyalah menyediakan
jawaban-jawaban bagi persoalan-persoalan human existence (eksistensi
manusia).”[lii]
Sebelumnya,
sejumlah penulis berlatar belakang IAIN seperti Sudirman Tebba berbicara
mengenai agama dan politik. Ia, misalnya, melihat pentingnya suara umat Islam
di dalam Pemilu 1997 untuk meneruskan “proyek Islam” yang telah dikembangkan
pemerintah Orde Baru, khususnya dengan lewat proses kedekatan antara
pemerintah dan umat Islam.[liii] Hal ini ditandai dengan munculnya ICMI
pada tahun 1990, dibentuknya Bank Muamalat Indonesia (BMI)—yang menjadi
payung bagi tumbuhnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang berdasarkan syariat
Islam, Asuransi Takaful. MUI juga berperan di dalam melakukan sertifikasi dan
labelisasi produk makanan, minuman, dan kosmetik yang halal. Hal ini
dimungkinkan berkat kerjasama Departemen Agama dan Departemen Kesehatan.
Sementara itu, masih dalam
konteks agama dan politik, Bahtiar Effendy melihat peran yang cukup
signifikan dari munculnya berbagai ormas Islam di Indonesia, yang dianggapnya
sebagai bagian dari wacana keislaman.[liv] Bahtiar Effendy dikenal sebagai seorang pengamat
politik—di samping nama-nama lain seperti Fachry Ali, Nurcholish Madjid dan
Azyumardi Azra—dan semakin mengukuhkan peran intelektual IAIN yang semakin
berkembang, seperti yang dinilai oleh Woodward sebelumnya. Di samping wacana
keagamaan, beberapa orang IAIN juga terlibat dalam diskusi mengenai masalah
agama dan negara.[lv] Pada gilirannya, corak pemahaman yang demikian
memudahkan kalangan IAIN untuk menawarkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan
yang berkenaan dengan Islam dan berbagai isu kontemporer seperti Hak Asasi
Manusia (HAM), demokratisasi, keadilan sosial dan pluralisme.
Dengan
semakin berkembangnya wacana intelektual di kalangan terpelajar IAIN—di
tambah lagi dengan semakin terbukanya kesempatan untuk melanjutkan studi ke
tingkat yang lebih tinggi baik di Timur Tengah maupun Barat—semakin jelas
bahwa tradisi intelektual di kalangan IAIN berkembang lebih pesat dari
sebelumnya. Hal itu bisa dengan mudah dilihat dengan semakin meluas dan
melebarnya ruang lingkup area of concern dan area of expertise
mahasiswa-mahasiswa IAIN yang melanjutkan studinya baik di dalam maupun luar
negeri. Hasilnya, adalah bermunculannya beberapa orang IAIN yang berhasil
meraih gelar doktor di berbagai bidang, seperti Azyumardi Azra,[lvi] M. Atho Mudzhar,[lvii] M. Din Syamsuddin,[lviii] Bahtiar Effendy, Masykuri Abdillah[lix] dan Mulyadhi Kartanegara[lx] (IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta), M. Amin
Abdullah,[lxi] Akh. Minhaji[lxii] dan Faisal Ismail[lxiii] (IAIN Yogyakarta), Syafiq Mughni[lxiv] dan M. Thoha Hamim[lxv] (IAIN Sunan Ampel Surabaya), Abdurrahman Mas’ud[lxvi] dan A. Qodri Azizi[lxvii] (IAIN Walisongo Semarang), Ahmad Nur Fadil Lubis[lxviii] (IAIN Sumatera Utara) dan sederet nama lainnya.
IAIN—lewat Departemen Agama,
utamanya sejak dipimpin oleh Menteri Munawir Sjadzali[lxix]—sudah melakukan kerjasama di bidang pendidikan
dengan beberapa universitas di Eropa dan Amerika Utara. Di dalam konteks ini
Munawir berperan besar di dalam penciptaan terbukanya kesempatan bagi
generasi muda IAIN untuk menimba ilmu di Barat. Dalam catatan Zamakhsyari
Dhofier, Munawir berperan meyakinkan pemerintah Indonesia mengenai pentingnya
peranan IAINdi dalam pengembangan
intelektualisme di kalangan Muslim (Islamic intellectualism)
Indonesia. Islamic intellectualism harus digabungkan dengan national
intellectualism lewat sebuah program yang memungkinkan kalangan
terpelajar Islam untuk belajar di berbagai universitas bergengsi di Barat, di
mana para ahli ekonomi, politik dan sosiologi Indonesia juga meraih gelar
doktor. Sehingga dengan demikian, komunikasi intelektual di antara
intelektual Muslim dan intelektual Indonesia lainnya bisa terjadi dengan
lebih intensif.[lxx] Dari sinilah kemudian program pengembangan IAIN
(IAIN Development Program)[lxxi] seperti yang terwujud dalam program “pembibitan
dosen” IAIN yang dimulai sejak akhir 1980-an menemukan signifikansi
pentingnya.
Publikasi
Karya-karya Orang-orang IAIN
Salah satu indikator paling
kuat dari tumbuhnya tradisi intelektual di kalangan IAIN adalah semakin
berkembangnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, publikasi
karya-karya kalangan terpelajar IAIN. Sejak awal 1980-an, terjadi peningkatan
yang cukup signifikan di dalam penerbitan buku-buku keislaman.[lxxii] Lebih dari itu, setidaknya dalam lima tahun
terakhir, terdapat jumlah yang signifikan dari karya-karya tulis kalangan
IAIN, utamanya dalam bentuk artikel koran, artikel di jurnal ilmiah dan buku-buku
ilmiah tentang Islam.
Artikel-artikelKoran
Dalam penelitian bibliografis
yang dilakukan terhadap berbagai tulisan kalangan IAIN (dosen, alumni dan
mahasiswa) dalam lima tahun terakhir (sejak tahun 1995-2000) di tujuh media
cetak, utamanya harian nasional (Kompas, Pelita, Media
Indonesia, Jawa Pos, the Jakarta Post, Merdeka dan Republika),
ditemukan setidaknya 222 tulisan dan artikel yang ditulis secara beragam dari
segi tema dan isu.[lxxiii] Dari setidaknya sepuluh tema dan isu yang ada,
penelitian atas ratusan tulisan kalangan IAINitu menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian utama adalah masalah
“agama, etika dan spiritualitas” (22,07%), yang disusul dengan masalah “agama
dan politik” (20.27%), kemudian tema “pluralisme agama dan budaya” (17,56%),
dan masalah “agama dan keadilan sosial” sebanyak 11,71%. Untuk penjelasan
yang lebih detail, lihat tabel berikut ini:
Tabel 1
Sepuluh Tema Bahasan dalam 222
Artikel Koran Kalangan IAIN*) yang Ditemukan dalam Tujuh Media Cetak
Nasional**) sejak 1995-2000:
No.
Tema
Jumlah
%
1.
Agama, HAM dan
Demokrasi
6
2,70
2.
Agama dan Keadilan
Sosial
26
11,71
3.
Kesetaraan Gender
16
7,20
4.
Civil Society
10
4,50
5.
Agama dan Politik
45
20,27
6.
Islam dan Modernitas
20
9,00
7.
Agama, Etika dan
Spiritualitas
49
22,07
8.
Pluralisme Agama dan
Budaya
39
17,56
9.
Lain-lain
11
4,95
Total
222
100
Keterangan:
*) Para penulis artikel yang secara eksplisit menyatakan
mereka adalah mahasiswa, dosen atau alumni IAIN.
**) Kompas, Pelita, Media Indonesia, Jawa Pos,
The Jakarta Post, Merdeka dan Republika.
Dari
sejumlah 222 artikel yang ditemukan di dalam penelitian ini, IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, tak pelak lagi, menjadi tempat yang paling banyak memberikan
kontribusi. Dari kampus Ciputat ini, sepanjang lima tahun terakhir, muncul
setidaknya 143 tulisan karya orang-orang IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Itu artinya, persentasenya mencapai 64,41% dari semua total tulisan yang
ditemukan. Angka ini cukup fantastis, dan secara signifikan menunjukkan
dominasi Jakarta sebagai pusat kemunculan tulisan orang-orang IAIN
se-Indonesia, paling tidak di tujuh media sebagaimana disebutkan. Namun
demikian, barangkali juga terdapat beberapa persoalan yang agak bias di sini.
Misalnya, ternyata enam dari tujuh media yang diteliti,terbukti berkedudukan di Jakarta—kecuali Jawa
Pos yang berpusat di Surabaya. Dan, IAIN Jakarta—di samping lima fakultas
yang ada—jugamemiliki program S-2 dan
S-3 yang kuat, di mana sejumlah mahasiswa pascasarjananya memang banyak yang
berasal dari IAIN-IAIN daerah. Jadi, terdapat kemungkinan, bahwa sebenarnya
ketika disebut berasal dari “Jakarta,” mereka juga sekaligus berasal dari
beberapa IAIN daerah.
Setelah
Jakarta, Yogyakarta berada pada peringkat kedua sebagai pemberi kontribusi
berbagai tulisan yang dimuat di tujuh media nasional tersebut. Dari IAIN
Sunan Kalijaga yang juga dikenal sebagai IAIN tertua ini, setidaknya tercatat
22 tulisan atau sekitar 9,90%. Sebenarnya, IAIN Yogyakarta memiliki akar-akar
dan tradisi intelektual yangtingggi.
Beberapa cendekiawan terkenal, seperti Mukti Ali, Simuh dan M. Amin Abdullah,
mengajar di sini.Sangat mungkin,
banyak sekali kalangan terpelajar IAIN Yogyakarta yang menulis lebih dari
jumlah ini, khususnya di berbagai koran dan media lokal Yogyakarta. Namun,
angka statistik ini hanya menunjukkan tingkat partisipasi intelektual mereka
di dalam sosialisasi berbagai gagasan keagamaan dan sosial pada level
nasional. Selanjutnya, disusul oleh IAIN Semarang yang menghasilkan 18
tulisan (8,10%). Dalam jumlah dan persentase yang seperti ini, IAIN Semarang
mencatat fenomena tersendiri. Sebelumnya, kontribusi ilmiah IAIN Walisongo ini
tidak begitu dikenal. Namun, beberapa catatan dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan yang cukup signifikan setidaknya
dalam lima tahun terakhir di IAIN Semarang. Setelah itu, IAIN Bandung
menyumbang 11 tulisan (4,95%), disusul oleh IAIN Sumatera Utara yang
menyumbang 8 tulisan (3,60%), dan IAIN Makassar sebanyak 5 tulisan (,25%).
Tabel 2 berikut ini menggambarkan keadaan selengkapnya:
Tabel 2
Sebelas IAIN Asal Penulis 222
Artikel Koran Kalangan IAIN yang Ditemukan dalam Tujuh Media Cetak Nasional
sejak 1995-2000
No.
Asal IAIN
Jumlah
%
1.
Jakarta
143
64,41%
2.
Yogyakarta
22
9,90%
3.
Semarang
18
8,10%
4.
Bandung
11
4,95%
5.
Sumatera Utara
8
3,60%
6.
Makassar
5
2,25%
7.
STAIN Mataram
4
1,80%
8.
STAIN Malang
4
1,80%
9.
Surabaya
3
1,35%
10.
Banjarmasin
2
0,90%
11.
Aceh
2
0,90%
Total
222
100%
Sementara itu, dari segi status
penulis artikel di koran-koran itu, terdapat fenomena yang menarik. Yakni,
terdapat jumlah dan persentase yang cukup berimbang di antara mahasiswa IAIN
dan dosen IAIN. Jumlah mahasiswa yang menulis, baik pada tingkat S-1, S-2 dan
S-3, sebanyak 86 orang yang berarti 38,73%. Disusul kemudian oleh penulis
yang menyebut dirinya sebagai dosen sebanyak79 orang atau sekitar 35,58%. Sisanya, dalam jumlah yang masih cukup
siginifikan, adalah para penulis yang mengaku sebagai alumni IAIN yang
berjumlah 57orang atau sekitar 25,67%
(lihat tabel 3).
Dari jumlah persentase yang
seperti itu, dapatlah dikatakan bahwa mahasiswa IAIN, utamanya yang berada
pada tingkat pascasarjana, merupakan komponen IAIN yang paling besar
kontribusinya di dalam menyebarkan ide-ide dan gagasan-gagasan yang
berkembang di IAIN. Hal ini bisa dipahami karena, paling tidak pada kasus
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, atmosfir
intelektual terasa lebih kental pada kalangan mahasiswa. Salah satu
indikatornya adalah banyaknya kelompok-kelompok studi mahasiswa di kedua IAIN
tertua tersebut (lihat pembahasan selanjutnya).
Tabel 3
Status Penulis IAIN dan Jumlah
Artikel Koran
yang Ditemukan dalam Tujuh
Media Cetak Nasional sejak 1995-2000
No.
Status
Jumlah
%
1.
Mahasiswa
86
38,73%
2.
Dosen
79
35,58%
3.
Alumni
57
25,67%
Total
222
100%
Sementara itu, dari sisi perbandingan penulis
laki-laki dan perempuan, terdapat sebuah perbedaan yang sangat jauh mencolok.
Sebagaimana yang diperlihatkan dalam tabel 4, dari 222 artikel yang ditulis
kalangan IAIN, hanya terdapat 13 artikel penulis perempuan IAIN atau hanya
sekitar 5,85%. Sementara itu, terdapat 214 artikel yang ditulis oleh penulis
laki-laki IAIN, yang berarti 94,15%. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun
terdapat kecenderungan yang cukup signifikan di dalam persentase partisipasi
perempuan di dalam proses belajar dan mengajar di lingkungan IAIN, hal
tersebut belum cukup membantu mengimbangi peranan para penulis laki-laki
kalangan IAIN. Namun demikian, munculnya penulis-penulis perempuan yang dapat
mensosialisasikan gagasan-gagasannya di publik dalam jumlah yang masih kecil
ini merupakan sebuah langkah positif bagi IAIN, karena setidaknya pada dua
dekade yang lalu, hal ini belum mungkin terjadi.
Tabel 4
Perbandingan Jumlah Artikel
Koran berdasarkan Gender yang Ditulis Penulis IAIN
yang Ditemukan dalam Tujuh
Media Cetak Nasional sejak 1995-2000
No.
Jenis Kelamin
Jumlah
%
1.
Laki-laki
209
94,15%
2.
Perempuan
13
5,85%
Total
222
100%
Artikel Jurnal Ilmiah
Penelitian
terhadapjurnal Studia Islamika[lxxiv]—salah satu jurnal internasional bergengsi yang
terbit di Indonesia dengan spesialisasi kajian Islam di Indonesia dan Asia Tenggara—menunjukkan
adanya peranan kuat kalangan akademisi IAIN di dalam penulisan karya-karya
ilmiah di bidang kajiannya masing-masing. Jurnal yang editorial-in-chief-nya
Azyumardi Azra ini, bisa disebut satu-satunya jurnal ilmiah dalam kajian
Islam yang dilanggan oleh berbagai perpustakaan dan universitas di luar
negeri yang diterbitkan oleh IAIN (Jakarta). Kekuatan akademis ini
ditunjukkan dengan diterbitkannya artikel-artikel tersebut dalam tiga bahasa,
yakni bahasa Indonesia, Inggris dan Arab.
Selama kurun waktu 1994-1999,
selama lima tahun, ditemukan sebanyak 88 artikel ilmiah yang ditulis kalangan
akademisi IAIN dari sebanyak 145 artikel yang pernah diterbitkan, yang
berarti 60,69%, sebagaimana yang ditunjukkan Tabel 5. Hal ini mengindikasikan
bahwa berbagai tulisan orang-orang IAIN sudah menjadi go public dan go
international—siap dibaca kalangan akademisi dan pemerhati masalah Islam
Asia Tenggara di berbagai negara.
Tabel 5
Jumlah artikel tentang Islam yang ditulis oleh
penulis IAIN di Studia Islamika,
Indonesian Jurnal for Islamic Studiesdalam kurun waktu 1994-1999:
No.
Penulis
Jumlah
%
1.
IAIN
88
60,69 %
2.
Non-IAIN*)
57
39,31 %
T o t a l
145
100 %
Keterangan:
*)Penulis Non-IAIN adalah para penulis, peminat
dan peneliti masalah keislaman dan keindonesiaan yang berlatar belakang
bukan-IAIN.
Buku-buku Ilmiah tentang Islam
Hal lain yang penting untuk
melihat perkembangan intelektual dan akademis kalangan IAIN, adalah dengan
melihat sejumlah buku yang pernah diterbitkan penulis-penulis IAIN sendiri.
Temuan kami di lapangan menunjukkan bahwa, dari tujuh penerbit buku besar
yang berskala nasional—yakni, Paramadina, Logos, Gramedia, Pustaka Hidayah,
UI Press, Djambatan, dan Mizan—sampai awal tahun 2000 ini terdapat setidaknya
143 judul buku yang ditulis, disunting dan diterjemahkan kalangan IAIN, dari
sekitar 418 buku ilmiah keislaman sejenis yang ditemukan hingga awal tahun
2000. Itu artinya, kalangan cendekiawan IAIN telah memberikan kontribusi
lebih dari sepertiga (34,21%) dari buku-buku ilmiah tentang Islam.
Hal lain yang menarik
adalah munculnya beberapa penerbit yang secara dominan menerbitkan
karya-karya orang-orang IAIN, seperti penerbit Logos (98,08%), dan Paramadina
(78,05%). Keduanya, setidaknya dalam lima tahun terakhir, telah menjadi
wahana yang baik bagi pengembangan dan sosialisasi gagasan keislaman dan
keagamaan kalangan akademisi dan intelektual IAIN (Untuk lebih detailnya,
lihat tabel 6 di bawah ini).
Tabel 6
Hasil Karya Tulis dan Suntingan Kalangan IAIN di 7
(Tujuh) Penerbit Buku Nasional*) dan Perbandingannya dengan Terbitan Sejenis
di Bidang Keislaman:
No.
Penerbit
Jumlah
%
1.
Paramadina, Jakarta
32 dari 41
78,05%
2.
Mizan, Bandung
43 dari 195
22,05%
3.
Logos, Jakarta
51 dari 52
98,08%
4.
Pustaka Hidayah,
Bandung
4 dari 103
3,89%
5.
Djambatan, Jakarta
2 dari 3
66,67%
6.
UI Press, Jakarta
9 dari 20
45,00%
7.
Gramedia, Jakarta
3 dari 4
75,00%
T o t a l
143 dari 418
34,21%
Keterangan:
*) Bahan-bahan dan informasi diambil dari katalog
buku terbitan ke-tujuh penerbit hingga awal tahun 2000.
Perlu dijelaskan
di sini bahwa, di dalam penelitian ini, beberapa penerbit yang dikenal luas
banyak menerbitkan buku-buku keislaman seperti Mizan dan Pustaka Hidayah
nampak menunjukkan persentase yang lebih kecil dari, misalnya, penerbit
Gramedia. Hal ini disebabkan karena kedua penerbit asal Bandung itu banyak
menerbitkan karya-karya keislaman penulis Muslim lain yang bukan IAIN, bahkan
banyak di antaranya merupakan karya terjemahan baik yang berasal dari bahasa
Inggris maupun bahasa Arab.
Perkembangan Tradisi Intelektual Islam Indonesia
Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa
Mahasiswa—sebagai salah satu
komponen masyarakat terpelajar yang penting—sangat besar pengaruhnya di dalam
laju pergerakan sebuah bangsa. Dalam konteks Indonesia moderen, mahasiswa
telah terbukti berada di garda depan di dalam sejumlah proses perubahan
sosial dan bahkan politik, seperti yang terjadi pada gerakan mahasiswa tahun
1966, dan yang paling mutakhir, tentu saja, gerakan reformasi—gerakan moral
yang meruntuhkan kekuasaan Suharto dan pemerintahan Orde Baru.
Tradisi intelektual di kalangan
mahasiswa—yang kritis, terkadang anti-kemapanan, dan independen—tidak pernah
lahir begitu saja secara given. Hal ini selalu diawali dengan
pergulatan pemikiran yang intensif, kritikal dan terbuka. Kemudian,
pemikiran-pemikiran itu terakumulasi sedemikian rupa sehingga muncul tuntutan
untuk menuangkan ide-idenya ke dalam bentuk aksi sosial seperti demonstrasi.
Dalam konteks IAIN—di mana nilai-nilai keagamaan sering menjadi pertimbangan
yang signifikan—atmosfir intelektualisme yang dikembangkan mungkin tidak
selalu sejalan dengan tradisi intelektual yang berkembang pada kampus-kampus
universitas dan Perguruan Tinggi umum.
Namun demikian, ada hal yang
perlu dicatat bahwa, kelompok-kelompok studi mahasiswa—yang sering menjadi
tempat penggodokan berbagai ide-ide segar mahasiswa—juga berkembang pesat di
beberapa lingkungan IAIN. Akibatnya, meskipun terkadang berbeda visi dan
orientasi, terdapat beberapa garis benang merah yang menghubungkan antara
sesama mahasiswa tersebut. Dan, dari sini, muncul beberapa kelompok studi
yang berkembang di lingkungan IAIN yang juga diakui keberadaannya oleh
kelompok-kelompok lainnya.
Dari pengamatan penulis, di
lingkungan kampus IAIN Jakarta terdapat beberapa kelompok studi dan diskusi
mahasiswa—beberapa di antaranya cukup dikenal pada skala nasional pada akhir
80-an dan awal 90-an—seperti Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat), Piramida
Circle, dan Respondeo.[lxxv] Di IAIN Yogyakarta, beberapa kelompok diskusi seperti
al-Jami’ah pada dekade 1980-an, dan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial),[lxxvi] sangat berpengaruh di dalam kehidupan akademis
mahasiswa Yogyakarta.Formaci dan
al-Jami’ah sangat dikenal karena telah melahirkan banyak
intelektual-intelektual muda Muslim yang progresif dan berpengaruh, yang
hingga kini banyak aktif di dalam kegiatan-kegiatan akademis dan kebudayaan,
khususnya untuk generasi intelektual Muslim Indonesia tahun 1980-an, seperti
Saiful Mujani, Ihsan Ali Fauzi, Budhy Munawar-Rachman dan Ali Munhanif
(Jakarta), Samsurizal Panggabean dan Taufik Adnan Amal (Yogyakarta).[lxxvii]
Kemunculan
berbagai Lembaga Kajian Keislaman
Munculnya fenomena kelas
menengah Muslim pada dekade 80-an di Indonesia, menghadirkan fenomena yang
menarik di dalam wacana keislaman. Yakni, semakin banyaknya kalangan Muslim
terpelajar—yang secara kultural mereka adalah urban namun tetap
memperlihatkan sikap dan komitmen mereka terhadap Islam—dan menunjukkan
keinginan yang luar biasa untuk kembali mendalami ajaran-ajaran agama yang
dianutnya.[lxxviii] Konsekuensinya, pengajian-pengajian yang
biasanya hanya menjadi konsumsi dan praktik keagamaan masyarakat Muslim
tradisional, juga menggejala di kalangan mereka. Bedanya, kalau kalangan
masyarakat Islam tradisional menyelenggarakannya di mushalla, mesjid atau
lapangan dengan mengundang da’i-da’i kondang, mereka mengadakan
pengajian-pengajian itu di hotel-hotel berbintang, dan kantor-kantor.
Fenomena ini, oleh beberapa pengamat, terkadang secara kurang hati-hati,
disebut sebagai fenomena kebangkitan Islam.[lxxix]
Karena budaya mereka yang urban, maka
pengajian-pengajian itupun dilaksanakan sesuai dengan taraf kebudayaan dan
tingkat intelektualitas urban pula. Dalam konteks ini, kemunculan beberapa
kelompok pengajian dan lembaga-lembaga kajian keislaman sebagai respon
terhadap semakin meningkatnya minat kalangan kelas menengah ini sangat mudah
dipahami. Karena sifat pendekatan Islamnya yang terbuka, inklusif dan tidak
melulu indoktrinasi, beberapa intelektual dan dosen IAIN menjadi diminati
untuk menjelaskan Islam yang bisa lebih sesuai dipahami dengan konteksnya.
Salah satu lembaga yang paling
awal memberikan respon positif terhadap perkembangan baru ini adalah Yayasan
Wakaf Paramadina, Jakarta. Lembaga yang didirikan pada 31 Oktober 1986 ini
banyak diprakarsai oleh beberapa aktivis dan intelektual Muslim yang sudah
dikenal baik oleh publik, seperti Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo dan Utomo
Danandjaya.[lxxx] Meskipun kemudian dikenal sebagai lembaga kajian
keislaman kalangan Muslim modernis, Paramadina disebut sebagai lembaga, “to
preach and develop the notion of an inclusive and tolerant Islam.”[lxxxi] Dan, memang, pada awal-awal kegiatannya,
Paramadina juga seringkali mengundang pembicara dari kelompok “lain” seperti
dari kalangan Muslim tradisionalis NU.[lxxxii] Tidak heran kemudian, para peserta yang hadir
dalam pengajian-pengajian Paramadina memiliki latar belakang yang beragam,
termasuk penganut agama lain.[lxxxiii]
Yang sering menjadi penceramah
dan pembicara dalam forum-forum Paramadina ini—selain tokoh agama dan intelektual
lainnya—tercatat beberapa nama seperti Nurcholish Madjid, Komaruddin Hidayat,
Quraish Shihab, Din Syamsuddin, Kautsar Azhari Noer, Nasaruddin Umar, M. Amin
Suma, dan Zainun Kamal—semuanya adalah dosen-dosen IAIN Jakarta. Mereka
sering diundang untuk menjelaskan beberapa permasalahan keagamaan dari
perspektif bidang kajiannya masing-masing. Sebagai akibatnya, pola pemahaman
keagamaan mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh cara pandang dan pendekatan
studi Islam yang telah sekian lama dikembangkan kalangan IAIN. Dengan
demikian, dapatlah disimpulkan bahwa, setidaknya dari kasus Paramadina di
Jakarta, peranan orang-orang IAIN didalam mentransfer pemahaman keislaman
kepada publik sangatlah signifikan.
Catatan
Penutup
Perkembangan pemikiran keagamaan di kalangan
masyarakat Islam Indonesia tentu saja tidak terbatas kepada apa yang terjadi
di dalam dinamika pemikiran kalangan terpelajar—mahasiswa, alumni dan
dosen—IAIN saja, melainkan juga pada masyarakat luas lainnya. Semakin
banyaknya intelektual Muslim dari kalangan kampus umum non-IAIN yang juga
berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam di Tanah Air cukup
membuktikan hal tersebut. Namun demikian, perubahan paradigma pemikiran
keislaman yang terjadi di kalangan IAIN—seperti yang diindikasikan oleh
berbagai publikasi karya-karya kalangan IAIN—berjalan seiring dengan
perubahan sosial dan budaya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,
ditambah dengan munculnya dinamika akademik dan intelektual kalangan IAIN,
sangat menarik untuk dicermati.
Bagi sebagian masyarakat, IAIN dikenal sebagai
lembaga pendidikan tinggi Islam yang kadang-kadang terlalu “sekuler” di dalam
mengajarkan kajian keislaman. Apalagi, belakangan, khususnya pada akhir
1980-an, terdapat kecenderungan perubahan orientasi studi keislaman dengan
pengiriman dosen-dosen muda IAIN ke beberapa universitas di Barat dalam
jumlah yang cukup signifikan.
Kajian awal ini masih jauh dari sempurna untuk lebih
memahami perubahan paradigma dan perkembangan mutakhir IAIN, dan masih
diperlukan telaah-telaah lanjutan yang lebih spesifik lagi. Namun demikian,
berbagai asumsi dasar dan penjelasan yang terdapat di dalam tulisan ini
menunjukkan bahwa IAIN, sebagai sebuah institusi pendidikan keislaman telah
mengalami berbagai perubahan baik visi maupun orientasi, yang terjadi sebagai
akibat dari dinamika internal dan eksternal yang begitu intensif kalangan
Muslim terpelajar Indonesia.Pengaruh-pengaruh pemikiran keislaman, baik yang berkembang di Barat
dan Timur—sebagaimana yang bisa dilacak dari berbagai lulusan IAIN dari
berbagai universitas di dua wilayah tersebut— dan berbagai pendekatan
(metodologi) di dalam mengkaji Islam juga sangat berperan besar ditelah memunculkan warna dan paradigma baru
tersebut.
Setidaknya terdapat lima indikator yang diperkuat
dengan beberapa bukti empiris mengenai peranan IAIN di dalam pengembangan
wacana pemikiran keislaman dan intelektual Indonesia. Kelima indikator
tersebut adalah: beragamnya wacana keagamaan yang dikembangkan, peningkatan
jumlah sarjana, khususnya yang bergelar doktor dan master, peningkatan jumlah
publikasi berupa artikel koran, jurnal ilmiah dan buku yang diterbitkan,
semakin menjamurnya kelompok-kelompok studi, dan terakhir kemunculan berbagai
kelompok-kelompok kajian keagamaan dan keislaman. Pengaruh IAIN di dalam hal
ini utamanya bisa dilihat dalam horizon wacana pemikiran Islam yang semakin
luas.
---------
Dadi Darmadi adalah dosen pada Fakultas Ushuluddin,
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan staf peneliti pada Pusat Pengkajian
Islam dan Masyarakat (PPIM)-IAIN Jakarta,menyelesaikan S2 di Department of Religious Studies, University of
Colorado at Boulder, Amerika Serikat, 1998.
[i]*) Tulisan ini berasal dan dikembangkan dari hasil penelitian saya mengenai
"The Development of Religious Intellectual Discourse," yang merupakan
salah satu bab yang terdapat dalam laporan penelitian Impact on the
Development and Modernization of Islam in Indonesia yang dilaksanakan pada Desember
1999-Maret 2000 oleh LPIU-IAIN Jakarta, kerjasama antara IAIN dan McGill
University. Penulis mengucapkan terimakasih kepada McGill-IAIN Higher Education
Project, khususnya Phil Williams, atas sponsornya dan izin penerbitan tulisan
ini, teman-teman PPIM dan IAIN Jakarta, khususnya Jajat Burhanuddin atas
berbagai ide awal tulisan ini, Fuad Jabali, Sirajuddin Abas, Arief Subhan, Abas
al-Jauhari dan Ismatu Ropi atas berbagai informasinya. Kepada Dr. Komaruddin
Hidayat (Ditperta, Depag RI) dan Bapak Chris Dagg (Simon Fraser University, BC,
Canada) saya berhutang budi atas berbagai saran dan kritikannya. Namun
demikian, semua isi tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
[i] Misalnya, menurut Azyumardi Azra, setidaknya dalam kurun waktu abad ke-17
dan 18, terdapat bukti yang kuat mengenai adanya pengaruh jaringan ulama Timur
Tengah dan proses pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Lihat, Azyumardi
Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan
XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Penerbit Mizan, 1994).
[ii] Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survey
Historis, Geografis dan Sosiologis (Bandung: Penerbit Mizan, 1992), halaman
15.
[iii] B.J. Boland. The Struggle of Islam in Modern Indonesia (The Hague:
Martinus Nijhoff, 1982), halaman 212.
[iv] Karel Steenbrink, "Menangkap Kembali Masa Lampau: Kajian-kajian
Sejarah oleh Para Dosen IAIN," dalam Mark R. Woodward (ed.). Jalan Baru
Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia (Bandung: Mizan, 1998),
halaman 156-157.
[v] Karel Steenbrink, "Menangkap Kembali”, halaman 157-158.
[vi] Lihat, Richard C. Martin, Mark R. Woodward dan Dwi S. Atmaja, Defenders
of Reason in Islam: Mu’tazilism from Medieval School to Modern Symbol (Oxford,
England: Oneworld Publications, 1997), halaman 148.
[vii] Karel Steenbrink, "Menangkap Kembali,” halaman 158.
[viii] Ihsan Ali-Fauzi, wawancara, Tangerang: Sabtu, 11 Maret, 2000. Ihsan
Ali Fauzi adalah lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
dandikenal sebagai salah seorangintelektual muda Muslim generasi 80’an. Ia
pernah aktif menjadi wartawan harian Republika dan penulis, penerjemah
dan editor beberapa buah buku mengenai Islam dan masalah keindonesiaan. Kini ia
menekuni bidang penelitian dan advokasi masalah Islam, HAM dandemokrasi di Voice Center Indonesia, Jakarta.
[ix] Istilah "mobilitas vertikal" sering digunakan dalam perspektif
sosiologis untuk melihat perkembangan dan interaksi antara kelompok-kelompok
masyarakat, namun dalam hal ini saya lebih merujuk kepada istilah tersebut yang
sering dikemukakan Sirajuddin Abas, peneliti dari PPIM-IAIN Jakarta, khususnya
untuk menjelaskan fenomena munculnya generasi baru Muslim terpelajar IAIN--yang
notabene kebanyakan berasal dari kalangan santri dan pesantren secara
keagamaan, dan menengah ke bawah dan pedesaan secara ekonomi dan
geografis--namun bisa memunculkan diri menjadi "bagian" dari kalangan
menengah perkotaan. Lihat, hasil laporan penelitian Impact on the
Development and Modernization of Islam in Indonesia, khususnya pada bab
"Strengthening the Islamic Education System."
[x] Nurcholish Madjid, wawancara, Bogor: Sabtu, Maret 11, 2000. Prof.
Dr. Nurcholish Madjid adalah Doktor bidang Filsafat dan Pemikiran Islamlulusan University of Chicago, 1984.
Sebelumnya ia kuliah di jurusan Sastra dan Kebudayaan, Fakultas Adab, di IAIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta dan lulus pada 1968. Ia juga adalah lulusan
Pesantren Darul ‘Ulum, Rejoso, Jombang dan KMI Pondok Modern Darus Salam,
Gontor, Ponorogo pada 1960. Mantan Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)
dua periode ini (1966-1971) kini lebih dikenal sebagai Rektor Universitas
Paramadina Mulya, Jakarta, di samping pengamat masalah sosial, politik dan
keagamaan.
[xii] Oleh karena pendekatannya terhadap Islam seperti ini, banyak kalangan
terpelajar Muslim lainnya, utamanya mereka yang mendapatkan pendidikan di
berbagai perguruan tinggi negeri, menganggap kalangan IAIN telah menjadi
“sekuler”.
[xiii] Abd. A'la, “Islam Indonesia di Pergantian Abad dan Prospeknya,” Kompas,
Jumat, 4 Februari 2000, halaman 4-5. Abd. A'la adalah doktor lulusan program S3
Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kini ia menjadi pengamat masalah
sosial keagamaan dan tinggal di Sumenep, Madura.
[xiv] Pandangan seperti ini sudah cukup sering dikemukakan banyak kalangan.
Namun, dalam hal ini, kami mengutip penjelasan Richard G. Kraince, seorang
kandidat PhD dari Ohio University yang tengah mengadakan penelitian tentang
IAIN dan modernisasi pendidikan di Indonesia. Richard G. Kraince, wawancara,
Jakarta, 23 Februari 2000.
[xv] Sudah sejak lama terbentuk semacam polarisasi—paling tidak merupakan
identifikasi masing-masing IAIN—bahwa IAIN Jakarta adalah kampus “pembaharuan pemikiran
Islam” dan IAIN Yogyakarta adalah kampus “pusat studi perbandingan agama.”
Paling tidak, hal itu tetap diakui hingga masa Munawir Sjadzali dan Tarmizi
Taher menjabat sebagai Menteri Agama RI.
[xvi] Pada dekade 80 dan 90-an, di kalangan aktifis mahasiswa dan kelompok studi
Formaci, Ciputat, misalnya sering diungkapkan perlunya pengembangan Ciputat
School of Thought—mazhab pemikiran Ciputat. Istilah ini mendapatkan
legitimasi yang lebih kuat dengan munculnya sebuah buku yang baru-baru ini
memuat berbagai tulisan kalangan intelektual IAIN Ciputat. Lihat, Edy A.
Effendy (ed.), Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat (Bandung: Zaman Wacana
Mulia, 1999).Buku ini memuat berbagai
tulisan sejumlah intelektual Muslim yang dikenal muncul dari Ciputat, seperti
Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Fachry Ali, Kautsar
Azhari-Noer, Budhy Munawar-Rachman, Saiful Mujani, Ihsan Ali Fauzi dan Ahmad
Sahal.
[xvii] Untuk melihat pemikiran-pemikiran Nurcholish semasa muda, lihat buku
kumpulan tulisannya, Pikiran-pikiran Nurcholish ‘Muda’: Islam, Kerakyatan
dan Keindonesiaan, (Agus Edi Santoso, ed.) (Bandung: Penerbit Mizan, 1994).
Cetakan kedua.
[xviii] Berbagai tulisan kolom dan artikelnya muncul di berbagai media massa
Indonesia, di samping sejumlah makalah-makalah ilmiahnya yang ia sampaikan
dalam berbagai forum seminar, baik dalam maupun luar negeri. Sebagian
tulisannya juga dimuat dalam buku-buku kumpulan tulisan, seperti “The Issue of
Modernization among Muslims in Indonesia: a Participant’s Point of View” dalam
Gloria Davis (ed.), What is Modern Indonesian Culture (Athens, OH: Ohio
University, 1978); “Islam in Indonesia: Challenges and Opportunities” dalam
Cyriac K. Pullapilly (ed.), Islam in the Modern World (Bloomington,
Indiana: Crossroads, 1982); “In search of Islamic Roots for Modern Pluralism:
the Indonesian Experiences” dalam Mark. K. Woodward, (ed.), Toward a New
Paradigm, Recent Developments in Indonesian Islamic Thought(Tempe, Arizona: Arizona State
University, 1996).Berapa bukunya yang
telah terbit, antara lain, adalah Khazanah Intelektual Islam (Jakarta:
Bulan Bintang/Obor, 1984); Islam, Kemoderenan dan Keindonesiaan, (Agus
Edi Santoso, ed.) (Bandung: Penerbit Mizan, 1988); Islam, Kerakyatan dan
Keindonesiaan (Bandung: Penerbit Mizan, 1987/1988); Islam Doktrin dan
Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992); Pintu-pintu Menuju
Tuhan (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1994); Islam Agama Kemanusiaan
(Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995); Islam Agama Peradabann (Jakarta:
Yayasan Wakaf Paramadina, 1995); Dialog Keterbukaan (Jakarta: Yayasan
Wakaf Paramadina, 1997); Cendekiawan dan Religiositas Masyarakat
(Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1999).
[xix] Untuk uraian lengkap sejarah perkembangan pemikiran dan biografi
intelektual Harun Nasution, lihat Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70
Tahun Harun Nasution (Jakarta: LSAF, 1989); Saiful Mujani, “Mu’tazilah
Theology and the Modernization of the Indonesian Community: Intellectual
Portrait of Harun Nasution,” Studia Islamika, No. 1, Vol. 1, 1989,
halaman 91-131; Arief Subhan, “Prof. Dr. Harun Nasution Penyemai Teologi Islam
Rasional,” dalam Azyumardi Azra dan Saiful Umam, Tokoh dan Pemimpin Agama:
Biografi Sosial-Intelektual (Jakarta: Balitbang Depag dan Pusat Pengkajian
Islam dan Masyarakat, 1999), halaman 439-477;dan Richard C. Martin and Mark R. Woodward with Dwi S. Atmaja, Defenders
of Reason in Islam: Mu'’azilism from Medieval School to Modern Symbol
(Oxford, England: Oneworld Publications, 1997), khususnya pada Bagian II,
“Harun Nasution and Modern Mu’tazilism,” halaman 119-193.
[xx] Untuk telaah lebih mendalam biografi Mukti Ali, lihat Ali Munhanif, “Prof.
Dr. A. Mukti Ali; Modernisasi Politik-Keagamaan Orde Baru,” dalam Azyumardi
Azra dan Saiful Umam, Menteri-menteri Agama RI: Biografi Sosial Politik (Jakarta:
INIS, Balitbang dan PPIM, 1998), halaman 271-319.
[xxi] AriefSubhan, “Prof. Dr. Harun
Nasution Penyemai Teologi,” halaman 456-458 dan 460-464.
[xxii] Pandangan seperti ini, misalnya, pernah dikemukakan oleh Taufik Abdullah,
salah seorang sejarawan paling terkemuka Indonesia dewasa ini, seperti yang
pernah ia tulis dalam, “The Formation of a New Paradigm? A Sketch on
Contemporary Islamic Discourse,” dalam buku yang merupakan kumpulan tulisan
tentang perkembangan studi-studi Islam di Indonesia hasil suntingan Mark R.
Woodward, Toward a New Paradigm: Recent Developments in Indonesian Islamic
Thought (Tempe, Arizona: Arizona State University, 1996), halaman 73.
[xxiii] Harun Nasution banyak menulis tentang teologi Islam rasional, khususnya
teologi Mu’tazilah dan Muhamad Abduh. Misalnya, Teologi Islam:
Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Press, 1972); Muhammad
Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah(Jakarta: UI Press, 1987). Kedua karya ini merupakan terjemahan dari
beberapa bab dari disertasi doktornya yang ia raih dari Institute of Islamic
Studies, McGill University, 1968. Namun, karya Harun Nasution yang dianggap
paling monumental adalah karyanya, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya
(Jakarta: UI Press, 1974). Buku ini terdiri dari dua volume.
[xxiv] Lihat, Ali Munhanif, “Prof. Dr. A. Mukti Ali; Modernisasi,” halaman
278-284.
[xxv] Ali Munhanif, “Prof. Dr. A. Mukti Ali; Modernisasi,” halaman 281-284.
[xxvi] Ali Munhanif, “Prof. Dr. A. Mukti Ali; Modernisasi,” halaman 286.
[xxviii] Djohan Effendy adalah lulusan Fakultas Syari’ah IAIN Yogyakarta, yang
kemudian dikenal sebagai salah seorang motor gerakan pembaharuan Islam di
Indonesia. Untuk telaah mendalam atas Djohan Effendy (bersama dengan Nurcholish
Madjid, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid), lihat Greg Barton, Gagasan
Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan
Effendy, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, (terj. Nanang Tahqiq) (Jakarta:
Paramadina dan Pustaka Antara, 1999).
[xxix] Ahmad Wahib (alm.) dikenang sebagai seorang pemikir muda Muslim yang
liberal. Untuk lebih mengenal berbagai gagasan-gagasan keislamannya, lihat
kumpulan catatan harian Wahib yang kemudian disunting Djohan Effendi dan Ismet
Natsir, Pergolakan Pemikiran Islam, (Jakarta: LP3ES, 1981).
[xxx] Kini, M. Dawam Rahardjo adalah cendekiawan Muslim yang juga Guru Besar
bidang Ekonomi Pembangunan pada Universitas Muhammadiyah Malang dan Rektor
Universitas Islam “45” Bekasi. Ia juga dikenal sebagai Ketua ICMI Pusat dan
Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), serta direktur LSAF (Lembaga Studi Agama
dan Filsafat).
[xxxiii]Abdul Halim, mahasiswa Fakultas Tarbiyah semester XI, IAIN Antasari
Banjarmasin, Kalimantan Selatan, wawancara, Banjarmasin, 17 Februari
2000.
[xxxiv] Harun Nasution meraih gelar Doktor pada tahun 1968, dan Mukti Ali meraih
gelar MA pada tahun 1957 dari Institute of Islamic Studies, McGill University.
Lihat Arief Subhan, “Prof. Dr. Harun Nasution Penyemai,” halamanhalaman 457-458, dan Ali Munhanif, “Prof. Dr.
A. Mukti Ali; Modernisasi,” halaman 284.
[xxxv] Tepatnya, Nurcholish Madjid menjadi Visiting Professor di Institute of
Islamic Studies, McGill University sebagai bagian dari McGill-Indonesia
Project, pada 1991-1992.
[xxxvi]Lihat Karel Steenbrink,
"Menangkap Kembali,” halaman 158.
[xxxvii] Dr. Fazlur Rahman adalah Harold H. Swift Distinguished Service Professor
di bidang kajian keislaman, University of Chicago. Beberapa intelektual Muslim
ternama Indonesia yang pernah mendapatkan kesempatan belajar padanya adalah Dr.
Nurcholish Madjid, Dr. Amin Rais dan Dr. A. Syafi'i Ma'arif.
[xxxviii] Lihat Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam:
Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (Bandung: Penerbit
Mizan, 1986).
[xxxix] Komaruddin Hidayat adalah lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta, dan
meraih gelar Doktor dalam kajian keislaman dari METU, Ankara Turki. Ia
melanjutkan studinya bersama dengan M. Amin Abdullah dari IAIN Yogyakarta, yang
juga meraih gelar Doktor dari universitas yang sama.
[xl] Fachry Ali menamatkan BA-nya dari Fakultas Adab, pada bidang Sejarah dan
Kebudayaan Islam, IAIN Jakarta. Kemudian ia menamatkan program Master dari
Monash University, Australia. Ia termasuk salah seorang perintis tradisi
intelektual IAIN yang aktif menjadi penulis dan peneliti pada LP3ES, sebuah
lembaga kajian yang paling berpengaruh di Indonesia sejak awal tahun 1980-an.
[xli] Bahtiar Effendy pernah belajar di Pesantren Pabelan, Jawa tengah, sebelum
akhirnya ia melanjutkan studinya di Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta. Yang
menarik, ia adalah sedikit di antara—kalau bukan satu-satunya—santri pesantren
yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar AFS antara Indonesia-Amerika,
di sebuah SLTA di Columbia Falls, Montana, AS. Selanjutnya, ia meraih MA di
bidang politik dari Ohio University, Athens, AS. Pada tahun 1994, ia meraih
gelar Doktor di bidang yang sama dari Ohio State University, Columbus, AS
dengan menulis disertasi yang berjudul, “Islam and the State: The
Transformation ofIslamic Political
Ideas and Practices in Indonesia.” Untuk edisi bahasa Indonesianya, lihat Islam
dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia
(terj. Ihsan Ali-Fauzi) (Jakarta: Paramadina, 1998).
[xlii] Saiful Mujani adalah lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta, dan
termasuk di antara intelektual Muslim yang berkembang pada generasi 1980-an.
Sebagai peminat dan pengamat masalah sosial, agama dan politik, berbagai
tulisannya tersebar di banyak media massa. Kini ia sedang menyelesaikan program
S-3 di bidang Ilmu Politik, Ohio State University, AS di bawah bimbingan Prof.
William Liddle. Lebih jauh mengenai biografi dan refleksi pemikirannya, lihat
dalam Ihsan Ali-Fauzi dan Haidar Bagir, Mencari Islam: Biografi Intelektual
Generasi Muslim 1980an (Bandung: Penerbit Mizan, 1990).
[xliii] Masdar F. Mas’udi adalah lulusan Fakultas Syari’ah IAIN Yogyakarta tahun
1979 yang kemudian lebih dikenal sebagai tokoh NU dan aktifis LSM. Salah satu pokok
pikirannya adalah perihal penafsiran baru terhadap persoalan zakat dan pajak.
Di samping menjadi pengamat masalah sosial keagamaan, ia menjabat sebagai
Direktur P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), Jakarta.
[xliv] Abdul Munir Mulkhan adalah dosen IAIN Yogyakarta, dan sedang melanjutkan
program S-3 di UGM. Ia dikenal sebagai penulis prolifik dengan tema-tema
berkisar antara agama dan masalah sosial budaya.
[xlv] Penyebutan beberapa nama di sini secara tidak terelakkan memang terkesan
agak berbau bias Jakarta dan Yogyakarta, tapi tulisan mereka yang disebutkan
memang sering menghiasi koran-koran nasional. Kemungkinan besar juga terdapat
fenomena menarik di IAIN-IAIN daerah, dan hal ini memerlukan penelitian lebih
lanjut.
[xlvi] Suadi Sa’ad, “Islam Menghadapi Tantangan Kemerdekaan: Pandangan Mohammed
Arkoun,” Thesis MA, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1995.
[xlvii] Muhammad Nurhakim, “Rekonstruksi Warisan Intelektual: Studi Kritis atas
Paradigma Pembaharuan Pemikiran Islam Hassan Hanafi,”Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta,
1995.
[xlviii] H.Aqib Suminto, Politik Islam Hindia-Belanda: Het Kantoor Voor
Inlandsche Zoken 1899-1942 (Jakarta: LP3ES, 1985).
[xlix] Kautsar Azhari Noer, “Wahdat al-Wujud ibn Arabi dan Panteisme,” Disertasi,
Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1993.
[l] M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih
dalam Politik (Jakarta: Penerbit Gramedia, 1994).
[li] Lihat Karel Steenbrink, "Menangkap Kembali," halaman 159.
[lii] Syafiq Hasyim, “Islam dan Tantangan Kominikasi Global,” Media Indonesia,
12 Juli 1996. Syafiq Hasyim adalah lulusan Jurusan Aqidah dan Filsafat,
Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1996. Ia juga dikenal
sebagai salah satu tokoh muda NU yang progresif, dan bergabung dengan aktifis
muda NU lainnya di Perhimpunan Pengembangan Pesantren (P3M), Jakarta. Sebuah
buku hasil suntingannya mengenai kesetaraan gender telah terbit dengan judul, Menakar
Harga Perempuan (Bandung: Penerbit Mizan, 1999).
[liii] Sudirman Tebba, “Pemilu dan Umat Islam,” Republika, 5 April 1997.
[lv] Beberapa penulis yang lebih senior dari kalangan IAIN, seperti Nurcholish
Madjid, Fachry Ali, dan Bahtiar Effendy sudah terlibat dengan diskusi-diskusi
dalam tema ini. Namun demikian, belakangan sejumlah penulis muda juga turut
aktif mendiskusikan gagasan-gagasannya di seputar topik ini. Sebagai sebuah
contoh, lihat misalnya, tulisan Rumadi, "Agama Tanpa Negara," Kompas,
Jumat, 4 Februari 2000, halaman 4. Rumadi adalah mahasiswa S3 program
Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan peneliti pada Institute for
the Study and Advancement of Civil Society, Jakarta.Sebelumnya Rumadi
beberapa kali terlibat dalam diskursus terbuka mengenai kerumitan-kerumitan di
seputar agama dan negara dengan beberapa penulis dan pemikir lainnya seperti
Denny J.A. dan H. Ahmad Soemargono.
[lvi] Azyumardi Azra adalah lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta. Kemudian
dengan beasiswa Fulbright dan bantuan sponsor lainnya, ia melanjutkan studi di
Departemen Sejarah, Columbia University, New York, Amerika Serikat. Salah satu
karya terpentingnya adalah buku yang diterbitkan dari disertasi PhD-nya, Jaringan
Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak
Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Penerbit Mizan,
1994).
[lvii] M. Atho Mudzhar adalah lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris Menteri Agama pada jaman Munawir
Sjadzali, sebelum ia akhirnya meneruskan studinya dan pada tahun 1990 meraih
gelar PhD di bidang kajian keislaman dari University of California at Los
Angeles, AS dengan menulis disertasi yang berjudul, “Fatwas of the Council of
Indonesian Ulama: A Study of Islamic Legal Thought in Indonesia 1975-1988.”
Ia juga pernah menuliskan pengalaman belajarnya sewaktu di AS dalam bukunya, Belajar
Islam di Amerika (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1992).
[lviii]M. Din Syamsuddin adalah alumnus IAIN Jakarta dan mendapatkan gelar doktor
dari University of California at Los Angeles (UCLA), AS. Ia dikenal sebagai
aktifis Muhammadiyah, dan pernah aktif sebagai Ketua Litbang Golongan Karya.
Kini ia memangku jabatan sebagai Dirjen Binapenta, Departemen Tenaga Kerja RI.
[lix] Masykuri Abdillah adalah dosen Fakultas Syari’ah IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Ia meraih gelar Doktor dalam bidang kajian keislaman pada tahun 1995
dari Hamburg University, Jerman dengan disertasi berjudul, “Responses of
Indonesian Muslim Intellectuals to the Concept of Democracy 1966-1993.”
[lx]Mulyadhi R. Kartanegara menyelesaikan program doktornya di Department of
Near Eastern Languages and Civilizations, University of Chicago, AS pada tahun
1996.
[lxi] M. Amin Abdullah menamatkan studi S3-nya di METU, Turki. Kini ia mengajar
di IAIN Yogyakarta dan dikenal sebagai intelektual dan aktifis Muhammadiyah.
[lxii] Akhmad Minhaji alumnus IAIN Yogyakarta, mendapatkan gelar doktor dari IIS,
McGill University tahun 1997.
[lxiii] Faisal Ismail adalah doktor lulusan Institute of Islamic Studies, McGill
University, Kanada, pada 1995. Untuk karyanya, lihat, “Pancasila as the Sole
Basis for all Political Parties and all Mass Organizations: an Account of
Muslims’ Responses,” Studia Islamika, Vol. III, No. 4, 1996.
[lxiv] Syafiq Mughni mendapatkan gelar doktor dari University of California at
Los Angeles (UCLA), AS.
[lxv] Thoha Hamim meraih doktor dari IIS, McGill University tahun 1996.
[lxvi] Abdurrahman Mas’ud mendapatkan gelar doktor dari University of California
at Los Angeles (UCLA), AS tahun 1997.
[lxvii] A. Qodri Azizi menyelesaikan gelar doktornya dari Department of Near
Eastern Languages and Civilizations, University of Chicago, AS pada tahun 1996.
[lxviii] Nur Ahmad Fadhil Lubis menyelesaikan program doktornya di University of
California at Los Angeles, AS. Kini ia menjabat Direktur Program Pascasarjana
IAIN Sumatera Utara, Medan. Mengenai karyanya, lihat “Institutionalization and
the Unification of Islamic Courts under the New Order,” Studia Islamika,
vol. II, No. 1, 1995.
[lxix] Munawir Sjadzali diangkat menjadi Menteri Agama pada tahun 1983, dan
menjabat sebagai pembantu Presiden di bidang keagamaan pada Departemen Agama
selama dua periode. Ia adalah lulusan madrasah Mamba’ul Ulum, Surakarta, Jawa
Tengah.Ia mendapatkan gelar di bidang
ilmu politik dan hubungan internasional dari Georgetown University, Washington
D.C., Amerika Serikat pada 1959. Sebelum menjabat Menteri Agama, beliau adalah
seorang diplomat senior yang telah bergabung dengan Kementrian Luar Negeri RI
selama lebih dari 30 tahun. Ia dianggap membawa pengaruh yang besar di dalam
perubahan visi dan orientasi studi IAIN, sehingga lembaga ini lebih terbuka,
dan bahkan menjalin kerjasama berupa pengiriman tenaga pengajar muda IAIN untuk
belajar di, setidaknya, dua universitas yang terkenal dengan kajian keislaman
di Barat, yaitu Leiden University, Belanda dan McGill University, Montreal
Kanada. Untuk biografi tokoh ini, lihat Bahtiar Effendy, Hendro Prasetyo dan
Arief Subhan, “Munawir Sjadzali, MA: Pencairan Ketegangan Ideologis,” dalam
Azyumardi Azra dan Saiful Umam, Menteri-menteri Agama RI: Biografi Sosial
Politik (Jakarta: Balitbang Depag, PPIM dan INIS, 1998).
[lxx] Zamakhsyari Dhofier, “The Intellectualization of Islamic Studies in
Indonesia,” Indonesia Circle, No. 58, Juni 1992.
[lxxi] Lebih tepatnya, program ini disebut Zamakhsyari Dhofier dengan istilah
“Pre-departure training programme for overseas post-graduate studies for IAIN
graduates.” Di kalangan IAIN sendiri, program ini lebih dikenal dengan istilah
“cados”—singkatan dari “pembibitan calon dosen.” Sejak dimulainya program ini
pada tahun 1988 sampai 1998 telah mendidik sekitar 320 orang dosen muda
(lulusan S-1) IAIN se-Indonesia yang secara sengaja dipersiapkan untuk sekolah
ke luar negeri, khususnya Barat. Sejak tahun 1997-1998, program ini menerima
peserta program bahasa Arab, dengan tujuan untuk disekolahkan ke Timur Tengah.
Dalam perkiraan sementara, antara 40-50 per sen (sekitar 150 orang) dari mereka
berhasil melanjutkan studinya ke berbagai universitas di Barat seperti McGill
University (lewat kerjasama McGill-IAIN), Leiden University (lewat kerjasama
IAIN-INIS Belanda), dan beberapa universitas di Inggris Raya (lewat beasiswa
the British Chavening Awards), Amerika Serikat (lewat beasiswa Fulbright dan
Humprey Fellowship), Jerman (beasiswa pemerintah Jerman), dan Australia (lewat
beasiswa AUSaid dan ASTAS). Yang lainnya, banyak meneruskan sekolah S-2 di
dalam negeri, seperti pada program pascasarjana di berbagai IAIN, atau di
pelbagai Universitas Negeri seperti IPB, UI dan UGM.
[lxxii] Hal ini, misalnya, ditandai dengan munculnya beberapa perusahaan penerbit
yang, nampaknya, secara khusus mempublikasikan buku-buku keislaman. Sejak awal
tahun 1980-an, publik peminat buku di Indonesia mengenal buku-buku keislaman
terbitan penerbit Mizan, Pustaka (Bandung), Shalahuddin Press (Yogyakarta), dan
belakangan pada akhir 80’an dan awal 90’an, muncul juga beberapa penerbit yang
turut meramaikan bursa buku-buku keagamaan dan keislaman di Indonesia, seperti
LKiS (Yogyakarta), Pustaka Hidayah dan Rosda Karya (Bandung).
[lxxiii] Lihat, Daftar Tulisan Mahasiswa, Dosen dan Alumni IAIN sejak Tahun
1995-2000 di Tujuh Media Cetak (Jakarta: Tim Peneliti Impact Study LPIU,
IAIN Jakarta, 2000).
[lxxiv]Studia Islamika adalah jurnal ilmiah yang mengkhususkan diri dalam
kajian Islam Indonesia dan Asia Tenggara—Indonesian Journal for Islamic
Studies—dan diterbitkan empat kali setahun oleh IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Sejak dipimpin oleh Dr. Azyumardi Azra pada tahun 1994, jurnal ini
telah terbit secara reguler dan kontinyu dengan menampilkan berbagai tulisan
berbobot di bidangnya, buah karya penulis dalam negeri dan luar negeri—sejumlah
ahli Islam di Indonesia kontemporer, seperti Martin van Bruinessen (Belanda),
Howard M. Federspiel, Robert W. Hefner dan John R. Bowen (Amerika Serikat),
Greg Barton (Australia), dan Andrée Feillard (Perancis) telah menulis di jurnal
ini. Meskipun jumlah pembacanya terbatas kepada peminat serius kajian
keislaman, Studia Islamika dibaca secara cukup luas dan sering digunakan
sebagai referensi, utamanya oleh kalangan mahasiswa pascasarjana IAIN. Di luar
negeri, jurnal ini dilanggan oleh setidaknya 80 lembaga kajian dan universitas
di Amerika, Eropa, Afrika dan Asia Tenggara.
[lxxv] Kelompok studi Formaci dan Piramida Circle, sampai tulisan ini dikerjakan,
masih tetap eksis dan para aktifisnya banyak yang berasal dari IAIN Ciputat.
Menurut beberapa informasi, kelompok studi Respondeo kini sudah tidak aktif
lagi. Belakangan, dalam satu tahun terakhir, muncul juga beberapa kelompok
studi baru di Ciputat, seperti Makar dan ISAC (Indonesian Studies and Advocacy
Center).
[lxxvi] LKiS belakangan ini dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan intelektual
muda NU, yang sangat progresif dan terkadang cenderung liberal. Sejumlah
aktifis lembaga ini tercatat sebagai mahasiswa dan alumni IAIN Yogyakarta.
Lembaga ini juga telah muncul menjadi salah satu pemasok buku-buku keislaman
dan sosial, utamanya yang bertemakan NU, Gus Dur, civil society dan
demokratisasi—sebagian tema yang menarik bagi perkembangan intelektual Islam di
Indonesia. Pada Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, Kediri pada akhir tahun 1999 yang
lalu, beberapa anggota kelompok muda NU mengadakan semacam “muktamar tandingan”
dengan menggelar diskusi dan membahas beberapa tema yang dianggap tidak
mendapatkan tempat di muktamar resmi. Secara bergurau, beberapa teman muda NU
menceritakan sikap antipati dari sebagian dari kalangan kiayi tua NU terhadap
gerakan kultural generasi muda NU, yang menyebut LKiS bukan sebagai “Lembaga
Kajian Islam dan Sosial”, tetapi “Lembaga Koq Isinya Setan.” Sebagian dari
aktifitas generasi muda NU ini terekam dengan baik dalam Hairus Salim &
Muhammad Ridwan, Kultur Hibrida, Anak Muda NU di Jalur Kultural
(Yogyakarta: LKiS, 1999).
[lxxvii] Untuk mengkaji beberapa contoh, lihat Ihsan Ali-Fauzi dan Haidar Bagir, Mencari
Islam: Biografi Intelektual Generasi Muslim 1980an. Buku ini merupakan
hasil kerjasama dengan Formaci.
[lxxviii] Untuk penjelasan yang tuntas mengenai fenomena ini, lihat M. Syafi’i
Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang
Cendekiawan Muslim Orde Baru (Jakarta: Paramadina, 1995).
[lxxix] Lihat, misalnya, kritikan dari Muhammad Wahyuni Nafis, “Kebangkitan Islam,
Apanya?,” Kompas, 14 Juni 1994.
[lxxx] Yayasan Wakaf Paramadina, 31 Oktober 1986-31 Oktober 1996: Profil 10th (Jakarta: Paramadina, 1996).
[lxxxi] Bahtiar Effendy, “Islam and the State: The Transformation of Islamic
Political Ideas and Practices in Indonesia,”Ph.D Dissertation. Columbus, OH: Ohio State University, 1994, halaman
60.
[lxxxii] Paramadina menawarkan beberapa paket kajian keislaman, baik berupa
pengajian bulanan—yang sering disebut Klub Kajian Agama (KKA), dan diadakan di
hotel-hotel berbintang—maupun kursus-kursus dan kuliah dengan topik bahasan
tertentu, seperti Filsafat dan Peradaban Islam, Tasawuf dan pengantar studi
Islam.
[lxxxiii] Salah satu jamaah (peserta) KKA yang beragama lain adalah alm. Pendeta
Victor Tanja, salah seorang tokoh intelektual Protestan terkemuka.