ANNUAL CONFERENCE
ON ISLAMIC STUDIES (ACIS) VIII
TANGGAL 3 – 6 NOPEMBER 2008
DI HOTEL HORISON, PALEMBANG
“Penguatan Peran PTAI
dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa”
Latar Belakang
Tahun 2008 sangat penting bagi bangsa Indonesia, karena pada tahun ini, tepatnya tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati satu abad kebangkitan nasional. Satu abad yang lalu para pejuang dan pendiri republik ini meletakkan fondasi gerakan nasional untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, dan memiliki daya saing tinggi, sehingga menjadi bangsa yang bermartabat.
Sesuai dengan semangat kebangkitan nasional yang dikobarkan oleh para pejuang kemerdekaan, momentum satu abad ini adalah saat yang sangat tepat bagi semua komponen bangsa untuk menilai sejauhmana bangsa ini telah benar-benar merdeka, berdaulat, dan berdaya saing dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan para ilmuan yang ada di lingkungannya, momentum satu abad kebangkitan nasional adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi (muhasabah), mengevaluasi peran dan kontribusi mereka dalam meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.
Berbagai bentuk kegiatan telah dilakukan, baik oleh lembaga-lembaga pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat, untuk mempertegas semangat kebangkitan nasional dan mengevaluasi satu abad perjalanan semangat tersebut bersama bangsa Indonesia. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu dan para budayawan, akademisi, politisi, serta agamawan, telah banyak mendiskusikan state of the art bangsa Indonesia pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Mereka membongkar berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi bangsa ini untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, kedaulatan, dan daya saingnya.
Berbagai kegiatan tersebut menyimpulkan bahwa, meskipun sudah satu abad dipandu oleh semangat kebangkitan, ternyata bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, berdaulat, dan memiliki daya saing. Bangsa ini memang telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan, tetapi pada saat yang sama bangsa ini masih memiliki banyak kelemahan dalam berbagai bidang, sehingga masih jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain, termasuk dari para tetangga dekatnya. Dan yang terpenting, bangsa ini masih dituntut bekerja ekstra keras agar menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, berdaulat, dan berdaya saing tinggi.
Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang saat ini berjumlah 525 dan tersebar di seluruh penjuru tanah air adalah bagian integral dari sistem pendidikan tinggi di negeri ini yang diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu dan sumber daya manusia tingkat tinggi yang dapat meningkatkan daya saing bangsa. Bersama lembaga-lembaga pendidikan tinggi lainnya, PTAI dituntut untuk berperan aktif dalam meningkatkan kualitas keilmuan dan sumber daya manusia Indonesia, sehingga bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang memiliki daya saing tinggi sesuai dengan cita-cita kemerdekaannya.
Momentum kebangkitan nasional sekarang ini adalah saat yang tepat bagi para pimpinan dan ilmuan yang ada di lingkungan PTAI untuk mengevaluasi peran dan kontribusi lembaga ini terhadap upaya-upaya peningkatan daya saing bangsa Indonesia. Mereka perlu secara komprehensif dan objektif menakar kualitas peran yang dapat dimainkan dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.
Para pengelola PTAI dan para peminat kajian ilmu-ilmu keislaman yang ada di lingkungannya dapat menjadikan momentum satu abad kebangkitan nasional sebagai momentum untuk mengevaluasi peran dan kontribusi apa yang telah diberikan oleh PTAI pada masa lalu, sekarang, dan akan datang. Para ilmuan yang ada di lingkungan PTAI perlu merefleksikan sejauhmana ilmu-ilmu keislaman yang mereka kembangkan telah memberikan kontribusi terhadap upaya-upaya bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi bangsa yang berbudaya dan berdaya saing. Mereka perlu secara serius dan bersama-sama memikirkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membuat keberadaan PTAI dan ilmu-ilmu keislaman yang dikembangkan di dalamnya lebih bermakna bagi masa depan bangsa Indonesia. Mereka perlu mendiskusikan format kelembagaan yang bagaimana dan kajian-kajian keislaman yang mana yang diperlukan dan dapat dikembangkan agar berdaya guna dan bermakna bagi tekad bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang benar-benar memiliki daya saing tinggi.
Sebagai event terbesar bagi para pengelola PTAI dan para peminat kajian keislaman di Indonesia, Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) VIII adalah “barometer” perkembangan PTAI dan kajian keislaman yang ada di lingkungannya. Event ini adalah ajang pembuktian tentang peran apa yang telah dan akan dapat dimainkan oleh PTAI dan ilmu-ilmu keislaman untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. Event ini akan menjadi ajang berdiskusi dan bertukar informasi bagi para pengelola PTAI dan para peminat ilmu-ilmu keislaman untuk menjadikan PTAI sebagai lembaga pendidikan tinggi yang kredibel, akseptabel, dan akuntabel serta mengembangkan kajian-kajian keislaman yang lebih aktual dan relevan dalam rangka menyahuti harapan besar bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, berdaulat, dan memiliki daya saing tinggi.
Tema
Berangkat dari latar belakang di atas, maka tema ACIS 2008 di Palembang adalah: Penguatan Peran PTAI dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa.
Tujuan
Secara umum, ACIS VIII 2008 diharapkan:
Secara khusus, ACIS VIII 2008 diharapkan :
Peserta Aktif
Rangkaian kegiatan ACIS VIII akan melibatkan 300 hingga 350 orang peserta aktif yang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
Syarat-syarat Peserta
Peserta ACIS VIII harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Rangkaian Kegiatan
Rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada ACIS VIII di Palembang adalah sebagai berikut:
Acara pembukaan akan dilaksanakan di istana gubernur Sumsel, Griya Agung, dan dihadiri oleh semua peserta ACIS VIII dan para undangan. Acara pembukaan akan disemarakkan dengan acara kesenian dan makan malam bersama Menteri Agama, Gubernur Sumsel, unsur-unsur Muspida Provinsi Sumsel, dan undangan VIP lainnya.
Pidato kunci akan disampaikan oleh Menteri Agama RI dan Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI dalam sesi pleno pertama yang dihadiri oleh semua peserta ACIS dan undangan.
Acis VIII akan menggelar empat sesi pleno dengan 16 orang narasumber yang diundang secara khusus. Mereka adalah para pemerhati perkembangan PTAI dan kajian keislaman di Indonesia.
Selain menggelar empat sesi pleno, ACIS VIII akan menggelar empat sesi paralel yang terdiri dari empat kelompok dan 64 makalah hasil tim seleksi. Para pemakalah sesi paralel terdiri dari tiga kategori sebagai berikut:
Dialog pengembangan PPs adalah forum curah pendapat (brain storming) dan berbagi informasi (information sharing) bagi para pengelola PPs di lingkungan PTAI untuk mempertemukan visi, misi, dan program-program pengembangan PPs di lingkungan PTAI. Acara ini dikoordinir oleh Direktur PPs IAIN Raden Fatah Palembang.
Bagi para peserta ACIS VIII yang berminat, panitia akan menjadwalkan kegiatan rekreasi dalam bentuk Tur Sungai Musi (Musi Tour) bersama kapal pesiar Putri Kembang Dadar milik Pemerintah Kota Palembang.
Dalam rangka mensosialisasikan karya para peminat ilmu-ilmu keislaman di lingkungan PTAI, panitia penyelenggara ACIS VIII akan menyediakan ruang khusus bagi para penerbit, baik dari lingkungan PTAI maupun dari masyarakat umum, untuk memamerkan dan mempromosikan produk-produk mereka.
Upacara penutupan akan dilaksanakan di kediaman Wali Kota Palembang. Acara ini diawali dengan makan malam bersama Wali Kota Palembang beserta unsur-unsur Muspida setempat dan disemarakkan dengan acara hiburan berupa lagu-lagu dan tarian khas Kota Palembang.
Target Kegiatan
Setelah ACIS VIII diharapkan: