Bandung, 28/6/2012. Rapat Koordinasi Kerjasama Kementerian Agama – CIDA telah melahirkan beberapa kesepakatan. Setahun program SILE telah menghasilkan rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan mulai Juli 2012. Rapat ini menyepakati untuk saatnya beraksi dan bekerja nyata. “Saatnya beraksi”, begitulah ungkap salah satu peserta Rapat Koordinasi ini.
Rapat Koordinasi dihadiri oleh Tim PIU UIN Alauddin Makassar dan PIU IAIN Sunan Ampel Surabaya. SILE yang concern untuk lebih mengoptimalkan fungsi outreach Perguruan Tinggi mendapat masukan berharga dari Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Direktur Pendidikan Tinggi Islam, pada saat memberikan sambutannya. “Saya berharap fungsi outreach PTAI juga bisa diarahkan ke dalam,” arahnya. Menurutnya, perubahan kelembagaan sebagian PTAIN menjadi Badan Layanan Umum—disingkat BLU—menuntut PTAI untuk mampu menciptakan sumber-sumber pembiayaan lain di luar anggaran Negara. Penguatan ke dalam diharapkan bisa mempersiapkan sumber daya yang kreatif dan inovatif.
Diskusi yang cukup dinamis dan alot untuk menentukan program prioritas di semester dua tahun ini. Banyaknya keinginan untuk mengimplementasikan annual work plan SILE ini menjadikan salah satu penyebabnya, dengan tetap mempertimbangkan komponen 100, 200, 300 dan 400.
Pada semester kedua tahun ini, SILE Project akan memberangkatkan sebagian dosen pada PTAIN Mitra SILE untuk mengikuti Short Course di Coedy University sebagai tindak lanjut dari Exposure Visit pada bulan lalu.
Capacity Development menjadi prioritas utama yang dirumuskan dalam bentuk mengirimkan pimpinan PTAIN untuk melakukan expose program PTAI masing-masing. CD ini penting untuk diselenggarakan, dan diharapkan bisa memberikan “darah baru” dalam mengelola PTAI masing-masing.
Program lain yang diprogramkan adalah pelatihan Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD) sebagai persiapan untuk pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di masing-masing PTAI mitra SILE ini.
Selain itu muncul pula untuk mereview semua kurikulum terutama pada program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Dakwah. Namun demikian, Tim SILE IAIN Surabaya tampak kurang sependapat. “Untuk konteks IAIN Surabaya, yang paling memungkinkan direview adalah kurikulum civic education,” komentar Muzakki, Ketua PIU IAIN Sunan Ampel Surabaya. “IAIN Surabaya telah mereview hampir seluruh kurikulum yang ada,” tambah Aswadi, Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel.
Diskusi untuk mematangkan rencana kegiatan SILE pada paruh kedua tahun ini berlangsung hingga mendekati tengah malam. ***anis**